SEJARAH BUDIDAYA LAUT

Awal budidaya laut atau marikultur di Indonesia ditandai dengan adanya keberhasilan budidaya mutiara oleh perusahaan Jepang pada tahun 1928 di Buton- Sulawesi Tenggara. Selanjutnya, awal tahun 1970-an dilakukan percobaan dan pengembangan budidaya rumput laut (Euchema sp.) di Pulau Samaringa-Sulawesi Tengah, dengan adanya kerjasama antara Lembaga Penelitian Perikanan Laut dan perusaan Denmark. Sementara itu, awal tahun 1980-an banyak pengusaha ekspor ikan kerapu hidup di Kepulauan Riau membuat karamba jaring tancap serta karamba jaring apung sebagai tempat penampungan ikan kerapu hidup hasil tangkapan sebelum di ekspor ke Singapura dan Hongkong. Adapun perkembangan  budidaya laut khususnya dalam karamba jaring apung (KJA) dipicu oleh keberhasilan pembenihan ikan bandeng dan ikan kerapu di hatchery secara massal pada tahun 1990-an di Loka Penelitian Budidaya Pantai di Gondol Bali.

Mengapa?

Banyak sekali tujuan yang menjadi target pencapaian dalam pelaksanaan budidaya laut, diantaranya adalah:

  1. Efektif dan efisien
  2. Menghasilkan komoditas yang lebih baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Dengan adanya metode budidaya yang sesuai terhadap suatu jenis komoditas laut, diharapkan bisa merubah komoditas tersebut baik dari segi kualitas maupun kuantitas jika dibandingkan dengan komoditas lain yang sama yang hidup bebas di alam

  1. Potensi
  2. Memberdayakan masyarakat
  3. Menjaga kelestarian ekosistem di alam

PRINSIP DASAR BUDIDAYA LAUT

Kegiatan budidaya laut pada dasarnya sama dengan budidaya perikanan darat. Budidaya laut merupakan kegiatan yang baru di dunia perikanan. Beberapa alasan budidaya laut bisa berkembang, diantaranya sumber day aikan yang ditangkap sudah menurun sehingga nelayan beralih ke budidaya, budidaya perikanan di darat banyak menglami hambatan dan harga atau nilai jual komoditas budidaya laut relatif lebih tinggi dibanding dengan budidaya air tawar.

  1. A. Pemilihan Jenis Komoditas

Ada bebereapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan pilihan b iota laut yang akan dibudidayakan, diantaranya aspek permintaan pasar, pasok benih, sediaan teknologi budidaya, sediaan lahan, dan kemungkinan timbulnya dampak negatif terhadap lingkungan. Per timbangan untuk memilih komodit as laut yang akan dibudidayakan :

  1. Sebaikknya mengembangkan spesies asli/ lokal daripada introduksi atau impor.
  2. Memilih spesies yang sesuai dengan permintaan pasar.
  3. Diversifikasi spesies budidaya diprioritaskan pada ikan pemakan plankton dan ikan herbivora. Jumlahnya lebih banyak daripada ikan karnivora.
  4. Jenis ikan pelagis lebih mudah dibudidayakan dilihat dari penerapan teknologinya dibandingkan dengan ikan demersal.
  5. Ikan yang tidak hanya bisa bernafas dengan insang atau ikan yang mempunyai labirin lebih mudah pemeliharaan dan tidak memerlukan mutu air yang baik.
  6. Ikan yang teknologi pembenihannya sudah maju sehingga pasokan benih baik jumlah dan kualitasnya tersedia setiap saat.
  7. Seluruh siklus hidup ikan budidaya harus dapat dikontrol dan teknologinya sudah dikuasai.

Banyak jenis biota laut yang sudah biasa dibudidayakan, seperti jenis ikan, krustasea, moluska, echinodermata, dan rumput laut. Ikan yang sudah biasa dibudidayakan adalah :

  1. Kerapu bebek
  2. Kerapu macan
  3. Kerapu lumpur
  4. Kakap merah
  5. Baronang
  6. Nila merah
  7. Bandeng
  8. Cobia
  9. Kerapu sunu
  10. Dan lain-lain

Jenis udang yang biasa dibudidayakan antara lain :

  1. Udang windu
  2. Udang barong

Sedangkan jenis-jenis moluska yang senantiasa dibudidayakan antara lain :

  1. Tiram daging
  2. Tiram mutiara
  3. Kerang hijau
  4. Kerang darah
  5. Kerang abalon
  6. Tiram mabe
  7. Dan lain-lain

  1. B. Pemilihan Lokasi

Sebagai langkah awal budidaya laut adalah pemilihan lokasi budidaya yang tepat. Oleh karena itu, pemilihan dan penentuan lokasi budidaya harus didasarkan pertimbangan ekologis, teknis, higienis, sosio-ekonomis, dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pemilihan lokasi sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan gabungan beberapa faktor yang dikaji secara menyeluruh.

  1. 1. Persyaratan teknis

Sesuai dengan sifatnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi perairan, lingkungan bagi kegiatan budidaya laut dalam keramba jaring apung sangat menentukan keberhasilan usaha. Pemilihan lokasi yang baik harus memperhatikan aspek fisika, biologi, dan kimia perairan yang cocok untuk biota laut. Selain itu, pemilihan lokasi perlu juga mempertimbangkan aspek efisiensi biaya operasional budidaya.

  1. 2. Persyaratan sosial-ekonomi

Berikut beberapa aspek sosio ekonomi yang perlu mendapat perhatian dalam pemilihan dan penentuan lokasi.

a)      Keterjangkauan lokasi. Lokasi budidaya yang dipilih sebaiknya adalah lokasi yang mudah dijangkau.

b)      Tenaga kerja. Tenaga kerja sebaiknya dipilih yang memiliki tempat tinggal berdekatan dengan lokasi budidaya, terutama pemberdayaan masyarakat dan nelayan.

c)       Sarana dan pra sarana. Lokasi budidaya sebaiknya berdekatan dengan sarana dan prasarana perhubungan ynag memadai untuk mempermudah pengangkutan bahan, benih, hasil dan lain-lain.

d)      Kondisi masyarakat. Kondisi masyarakat yang lebih kondusif akan memungkinkan perkembangan usaha budidaya laut di daerah tersebut.

  1. 3. Persyaratan non-teknis

Persyaratan non-teknis yang harus dipenuhi dalam pemilihan lokasi adalah :

a)      Keterlindungan. Lokasi budidaya harus terlindung dari bahaya fisik yang dapat merusaknya. Misalnya gelombang besar dan angin. Oleh karena itu, lokasi budidaya biasanya dipilih di tempat yang terlindung atau terhalang oleh pulau.

b)      Keamanan lokasi. Masalah pencurian harus dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi budidaya agar proses budidaya aman dan tidak terganggu.

c)       Konflik kepentingan. Lokasi budidaya tidak boleh menimbulkan konflik kepentingan, misalnya, antara kegiatan perikanan dan nonperikanan (pariwisata).

d)      Aspek peraturan dan perundang-undangan. Pemilihan lokasi harus sesuai dan tidak melanggar peraturan agar budidaya dapat berkelanjutan.

  1. C. Teknis Budidaya

Berbeda dengan budidaya air tawar, komoditas budidaya laut cukup banyak. Selain itu, metode atau  teknologi budidaya laut lebih beragam, mulai dari pemanfaatan lahan dasar, penggunaan jaring atau rak tancap ( pen Culture ), Keramba Jaring apung.

a) Jaring Tancap

Jaring tancap ( pen Culture ) biasanya dipasang di bawah ( kolong ) rumah nelayan di pinggir pantai atau dipasang di tengah laut pada kedalaman 2-8 meter waktu surut terendah. Jaring tancap merupakan jaring kantong berbentuk persegi yang dipasang pada kerangka bambu atau kayu yang ditancap pada dasar perairan. Pasangan kayu / bambu ditancap rapat, seperti pagar, atau hanya dipasang di bagian sudut kantong jaring. Jaring sebagai lapisan dalam diikatkan pada kayu.

b) Keramba jaring apung

Keramba Jaring Apung ( KJA ) dapat dibuat dalam berbagai ukuran. Desain dan bahan tergantung pada kemudahan penanganan, daya tahan bahan baku,harga, dan faktor lainnya. Jaring atau wadah untuk pemeliharaan ikan di laut dibuat dari bahan polietilen. Bentuk dan ukuran bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh jenis ikan yang dibudidayakan, ukuran ikan, kedalaman perairan, serta faktor kemudahan dalam pengelolaan.

BUDIDAYA RUMPUT LAUT

Rumput laut merupakan sumber utama penghasil agar-agar, alginat dan karaginan yang banyak dimanfaatkan dalam industri makanan, kosmetik, farmasi dan industri lainnya, seperti industri kertas, tekstil, fotografi, pasta dan pengelengan ikan.

Beberapa jenis rumput laut yang telah berhasil di budidayakan dan telah berkembang dengan baik di tingkat pembudidaya adalah Kappaphycus alvarezii dan euchema denticulatum yang di pelihara di perairan pantai (laut).

  1. A. Pemilihan lokasi budidaya

Pertumbuhan rumput laut ditentukan oleh kondisi perairan sehingga kondisi rumput laut cenderung bervariasi dari lokasi budidaya yang berbeda.

Karakteristik ekologi suatu lokasi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan usaha rumput laut. Parameter yang perku di oerhatikan adalah sebagai berikut:

  1. Arus

Rumput laut merupakan tanaman yang memperoleh makanan (unsur hara) melalui aliran air yg melewatinya. Kecepatan arus yang baik untuk budidaya adalah 20-40 cm/detik.

  1. Dasar Perairan

Dasar perairan berupa pecahan karang dan pasir karang merupakan kondisi dasar perairan yang sesuai dengan budidaya rumput laut.

  1. Kedalaman

Kealaman perairan sangat tergantung dengan metode budidaya yang akan di pilih. Pemilihan kedalaman perairan yang tepat dilakukan untuk manghindari kekeringan dan mengoptimalkan pencapaian sinar matahari ke rumput laut.

  1. Kadar Garam

Kadar garam yang sesuai untuk pertumbuhan rumput laut berkisar antara 28-35 g/Kg

  1. Kecerahan

Lokasi budidaya rumput laut sebaiknya pada perairan yang jernih dengen tingkat kecerahan yang tinggi.

  1. Ketersediaan bibit

Bibit rumput laut yang berkualitas sebaiknya tersedia di sekitar lokasi budidaya yang di pilih, baik yang bersumber dari alam maupun dari budidaya sendiri.

  1. Orgaisme Pengganggu

Lokasi budidaya diusahakan pada lokasi yang tidak banyak terdapat organisme pengganggu, seperti ikan baronang, bintang laut, bulu babi, dan penyu.

  1. B. Metode Budidaya
    1. Metode Lepas Dasar

Metode ini dilakukan di atas dasar perairan yang berpasir atau pasir berlumpur dan tyerlindung dari hempasan gelombang yang besar. Hal ini penting untuk memudahkan  pamasagan patok . biasanya lokasi dikelilingi oleh karang pemecah gelombang. Selain itu, sebaiknya memiliki kedalaman air sekitar 50cm pd surut terendah dan 3m pada saat pasang tertinggi.

  1. Metode Rakit Apung

Merupakan budidaya rumput laut dengan cara mengikat rumput laut pada tali ris. Yang diikat pada rakit apung yang terbuat dari bambu. Satu unit rakit apung berukuran 2,5 m – 5 m. Tanaman harus selalu berada sekitar 30-50 cm dibawah permukaan air laut.

  1. Metode Rawai

Metode ini dikenal dengan metode long line yang menggunakan tali panjang yang di bentangkan. Metode ini merupakan salah satu metode permukaan yang paling banyak di minati pembudidaya. Alat dan bahan yang digunakan dalam metode ini lebih tahan lama, relatif murah, dan mudah diperoleh.

  1. Metode Jalur

Metode ini merupakan kombinasi antara metode rakit dengan rawai. Kerangka metode ini ternuat dari rakit (bambu) yang tersusun sejajar. Kedua ujung setiap bambu dihubungkan dengan tali utama berdiameter 6mm sehingga membentuk persegi panjang dengan ukuran 5m – 7m per petak dengan satu unit terdiri dari 7-10 petak.

Pada kedua ujung setiap unit di beri jangkar penanaman dimulai dengan mengikat bibit rumput laut ke tali jalur. Tali tersebut telah di lengkapi dengan tali polietilen berdiameter 0,2c sebagai pengikat bibit. Adapun jaraknya sekotar 25cm.

  1. C. Pengolahan budidaya
  2. 1. Penyediaan bibit

Penyediaan bibit rumput laut diambil dari alam, budidaya, dan pembenihan. Budidaya rumput laut dapat mengambbil benih dari alam bila lokasi budidaya tersebut memiliki potensi bibit alam.

  1. 2. Penanganan bibit selama pengangkutan

Pengangkutan bibit selama pengangkutan dari tempat asal ke lokasi budidaya dilakukan sebagai berikut :

  • Bibit harus dijaga agar tetap lembab
  • Usahakan agar tidak terkena air tawar, hujan, embun, mminyak, dan kotoran lainnya karena akan merusak bibit.
  • Bibit tidak boleh terkena sinar matahri
  • Bibit diletakkan pada daerah yang jahu dari sumber panas, seperti mesin mobil atau perahu.
  1. 3. Penanaman bibit

Bibit yang akan ditanam dipilih yang berkualitas. Kepadatan penanaman bibit rumput laut tergantung dari jenis dan metode budidaya yang akan digunakan. Untuk budidaya Euchema sp. Bobot bibit yang digunakan sekitar 50-100 ggr per ikatan dengan jarak tidak kurang dari 25 cm.

  1. 4. Perawatan tanaman

Agar budidaya dapat dilakukan dengan baik dan berhasil maka harus dilakukan perawatan dan pemeliharaan. Perawatan bukan hanya pada tanaman itu sendiri tetapi juga pada alat-alat dan perangkat budidaya. Oleh karena itu, pengelola rumput laut sangat diperlukan untuk memperkecil kemungkinan kerusakan tanaman.

Kegiatan perawatan meliputi pembersihan lumpur, kotoran, dan biofouling yang menempel pada thallus rumput laut; penyisipan tanaman yang rusak atau lepas dari ikatan; penggantian patok, pelampung dan lain-lain.

  1. D. Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama tanaman pada budidaya rumput laut umumnya merupakan organisme laut, terutama ikan baronang dan penyu yang memangsa tanaman. Secara alami, organisme tersebut hidup dengan rumput laut sebagai makanan utamanya. Hama tersebut dapat menimbulkan kerusakan fisik pada tanaman budidaya.

Penyakit ice-ice merupakan kendala utama budidaya rumput laut. Gejala ini dikenal juga dengan nama white spot. Rumput laut yang terserang penyakit itu antara lain pertumbuhan yang lambat, terjadinya perubahan warna thallus menjadi pucat atau warna tidak cerah, dan sebagian atau seluruh thallus pada beberapa cabang mengalami keputihan serta membusuk. Penyakit tersebut terutama disebabkan oleh perubahan lingkungan, seperti arus, suhu, dan kecerahan. Kecerahan air yang sangat tinggi dan rendahnya kelarutan unsur hara nitrat dalam perairan juga merupakan penyebab munculnya penyakit tersebut.

  1. E. Panen

Waktu panen sangat ditentukan oleh waktu tanaman dalam mencapai tingkat kandungan bahan utama maksimal. Dengan demikian panen rumput laut sebaiknya dilakukan setelah mencapai pemeliharaan selama 45 hari. Namun, panen untuk rumput laut untuk bibit dilakukan pada saat umur tanaman berkisar 25-35 hari.

Panen dilakukan pada cuaca yang cerah agar kualitas rumput laut yang dihasilkan terjamin. Panen dapat dilakukan dengan dua cara yaitu ; panen selektif atau parsial dan secara keseluruhan. Panen secara selektif dilakukan dengan cara memotong tanaman secara langsung tanpa melepas ikatan dari tali ris. Keuntungan cara ini adalah penghematan tali rafia pengikat rumput laut, tetapi memerlukan waktu yang agak lama. Sementara itu panen kaseluruhan dilakukan dengan mengangkut seluruh tanaman sekaligus sehingga waktu kerja yang diperlukan lebih singkat.

Panen rumput laut secara keseluruhan pada metode lepas dasar, rakit apung, rawai, dan jalur dilakukan dengan cara berikut :

  • Rumput laut dibersihkan dari kotoran atau tanaman lain yang melekat sebelum dipanen.
  • Tali ris yang penuh dengan ikatan rumput laut dilepaskan dari bambu atau tali utama.
  • Gulungan dari tali ris yang berisi ikatan rumput laut diletakan di sampan atau wadah transportasi lainnya.

Diusun Oleh

Gusti Septiandina 230210080002

Reza Muhammad Azhar 230210080007

Jimy Kalther 230210080049

Enjang Hernandi Hidayat 230210080068

Alfian Nurrachman 230210080071

Andy Catur 2302100700

Marine Culture

Ilmu Kelautan UNPAD 2010

Comments (4) »

RESUME EKOLOGI LAUT TROPIS

Ekologi Laut Tropis

Ekologi laut merupakan ilmu yang mempelajari tentang Ekosistem air laut. Ekosistem air laut dibedakan atas lautan, pantai, estuari, dan terumbu karang, dan padang lamun. Lingkungan laut dapat digambarkan atau ditandai pada sejumlah skala yang berbeda. Yang terpenting di ekologi laut tropis ini adalah pemandangan laut, habitat dan spesies, antar-hubungan mereka dapat dinyatakan sebagai berikut:

  • Spesies memberikan keanekaragaman hayati, dengan aturan mapan baik taksonomi untuk membedakan antara jenis yang berbeda. Klasifikasi mereka diatur dalam sebuah ordo, family, kelas dan filum.
  • Suite terdiri habitat spesies (komunitas atau kumpulan) yang terjadi bersamaan, tetapi yang berasal dari bagian taksonomi (misalnya kelps, moluska dan ikan di habitat hutan kelp). Klasifikasi mereka juga dapat terstruktur dalam biotop, biotop kompleks, habitat yang luas yg mencerminkan kesamaan derajat.
  • Kelautan terdiri dari habitat yang secara konsisten terjadi bersamaan, tetapi yang sering berasal dari berbagai bagian klasifikasi habitat (misalnya saltmarsh, mudflats intertidal, pantai berbatu dan kerang tempat tinggal di sebuah muara subtidal).

Toleransi terhadap kondisi lingkungan yang bervariasi antara spesies dapat lebih luas untuk beberapa spesies yang sangat umum tetapi jauh lebih ketat ditetapkan untuk orang lain. Adapun karakteristik laut terbagi menjadi 3, yaitu :

  • Laut Tropis : predator tertinggi (tuna, lansetfish, setuhuk, hiu sedang dan hiu besar), predator lainnya : cumi-cumi, lumba-lumba
  • Laut Subtropis : predator tertinggi (lumba-lumba, anjing laut dan singa laut, paus, burung-burung laut), predator lainnya : salem, cumi-cumi
  • Laut Kutub : predator tertinggi (paus), predator lainnya : anjing laut, singa laut.

Diantara ketiga karakteristik laut diatas, dapat diketahui bahwa laut tropis memiliki keanekaragaman laut yang sangat kaya dibandingkan laut subtropics dan laut kutub, hal ini disebabkan karena pada laut tropis sinar matahari sepanjang tahun secara terus menerus menyinari daerah ini sehingga membuat kondisi yang optimal bagi produktifitas spesies di dalamnya yang konstan sepanjang tahun.

EKOSISTEM

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.

Seluruh ekosistem di dunia disebut biosfer. Dalam biosfer, setiap makhluk hidup menempati lingkungan yang cocok untuk hidupnya. Lingkungan atau tempat yang cocok untuk kehidupannya disebut habitat. Dalam biologi kita sering membedakan istilah habitat untuk makhluk hidup mikro, seperti jamur dan bakteri, yaitu disebut substrat

Ekosisitem sendiri terdiri dari 2 komponen yaitu :
1.Komponen Biotik terdiri dari:

  • Produsen adalah organisme yang dapat menghasilkan makanan dan penyedia makanan untuk makhluk hidup yang lain.
  • Konsumen adalah organisme yang tidak dapat membuat makanannya sendiri dan bergantung pada organisme lain dalam hal makanan.
  • Pengurai adalah organisme yang menguraikan organisme mati. Contoh pengurai adalah jamur dan bakteri.

2.Komponen Abiotik terdiri dari:

  • Cahaya matahari
  • Tanah
  • Air
  • Gas
  • Suhu
  • Kelembaban

Kebergantungan pada ekosistem dapat terjadi antar komponen biotik atau antara komponen biotik dan abiotik.

  1. Kebergantungan antar komponen biotik dapat terjadi melalui:
  • jaring- jaring makanan
  • rantai makanan
  • siklus karbon
  • siklus air
  • siklus nitrogen
  • siklus sulfur
  1. Kebergantungan antara komponen biotik dan abiotik dapat terjadi melalui siklus materi, seperti:

Saling kebergantungan tidak hanya terjadi antar komponen biotik. Saling kebergantungan juga terjadi antara komponen biotik dan abiotiknya.

  • Saling Kebergantungan Antarkomponen Biotik
  1. Rantai makanan
    Perpindahan materi dan energi melalui proses makan dan dimakan dengan urutan tertentu disebut rantai makanan

(Sumber : http://www.kathy-lilia.blogspot.com/2007_06_01_archive.jpg)

Tiap tingkat dari rantai makanan disebut tingkat trofi atau taraf trofi. Karena organisme pertama yang mampu menghasilkan zat makanan adalah tumbuhan maka tingkat trofi pertama selalu diduduki tumbuhan hijau atau produsen. Tingkat selanjutnya adalah tingkat trofi kedua, terdiri atas hewan pemakan tumbuhan yang biasa disebut konsumen primer. Hewan pemakan konsumen primer merupakan tingkat trofi ketiga, terdiri atas hewan-hewan karnivora.

  1. Jaring-jaring makanan

Pada hakikatnya, setiap makhluk hidup di dalam suatu ekosistem merupakan sumber materi dan energi bagi makhluk hidup lainnya. Suatu kenyataannya bahwa setiap jenis makhluk hidup tidak hanya memakan satu jenis makhluk hidup lainnya.

Akibat dari semua itu maka di dalam suatu ekosistem, rantai-rantai makanan itu akan saling berhubungan satu sama lain sedemikian rupa sehingga membentuk seperi jaring-jaring. Itulah sebabnya disebut jaring-jaring makanan.

(Sumber : http://andalasdejava.files.wordpress.com/2007/08/rantaian makanan.gif)

  • Saling Kebergantungan Antara Komponen Biotik dan Abiotik

Saling kebergantungan di antara komponen yang ada dalam ekosistem, baik antara komponen biotik dan abiotik contohnya dapat dilihat pada siklus karbon. Siklus karbon tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak ada tumbuhan, hewan, pengurai, air dan tanah.

Secara umum ada tiga macam tipe ekosistem yaitu :

Ekosistem Air (akuatik)

Ekosistem Darat (terrestrial)

Ekosistem buatan

Keanekaragaman makhluk hidup perlu dijaga supaya ekosistem menjadi stabil. Semakin beranekaragam makhluk hidup dalam suatu ekosistem, semakin stabil ekosistem tersebut. Flora dan fauna alami yang terdapat di hutan perlu dilestarikan karena merupakan sumber plasma nutfah (plasma benih). Sumber plasma nutfah dapat dimanfaatkan untuk mencari bibit unggul bagi kepentingan kesejahteraan manusia. Upaya perlindungan keanekaragaman hayati dapat dilakukan dengan mendirikan cagar alam, taman nasional, hutan wisata, taman laut, hutan lindug dan kebun raya. Untuk mencegah kepunahan makhluk hidup, kadang diperlukan pemeliharaan untuk mengembangbiakannya, yang disebut dengan penangkaran. Pemeliharaan dapat dilakukan secara in situ dan ex situ. Pemeliharaan in situ adalah pemeliharaan yang dilakukan di habitat aslinya. Pemeliharaan ex situ adalah pemeliharaan yang dilakukan di luar habitat aslinya, misalnya di kebun binatang.

NICHE

Setiap spesies cenderung untuk hidup dalam lingkungan tertentu, yaitu memiliki preferensi untuk kombinasi faktor lingkungan (niche), seperti substrat, suhu, salinitas dan kondisi hidrodinamika yang mampu hidup di dalamnya. Dua spesies makhluk hidup dapat menempati habitat yang sama, tetapi tetap memiliki relung (nisia) berbeda. Nisia adalah status fungsional suatu organisme dalam ekosistem. Dalam nisianya, organisme tersebut dapat berperan aktif, sedangkan organisme lain yang sama habitatnya tidak dapat berperan aktif. Sebagai contoh marilah kita lihat pembagian nisia di hutan hujan tropis.

Niche yang ditempati oleh suatu spesies dapat bervariasi baik temporal dan spasial dan bukan hanya dipengaruhi oleh persyaratan fisiologis dan toleransi untuk mengubah, tetapi juga oleh interaksi antara spesies, yaitu persaingan dan hubungan mangsa-pemangsa.

Di tempat tertentu di pantai atau dasar laut, spesies masing-masing disesuaikan dengan kondisi lingkungan tertentu, seperti kondisi dari intertidal. Dimana seperti spesies terjadi di lokasi lain dalam kondisi lingkungan yang sama, dapat didefinisikan sebagai komunitas (atau asosiasi atau perkumpulan) spesies yang terjadi dalam jenis habitat tertentu. Biotop istilah kolektif sekarang dalam penggunaan umum untuk mencakup kedua unsur biotik dan abiotik.

Dalam lingkungan laut, ada hubungan yang kuat antara sifat abiotik habitat dan komposisi biologis masyarakat mendukung. Salah satu faktor yang paling penting yang mempengaruhi komposisi jenis adalah jenis yang hadir substratum, luas yang dapat dibagi menjadi batu dan sedimen (yang terakhir ini berhubungan erat dengan rezim hidrodinamika) sedangkan pada muara salinitas merupakan faktor penting. Struktur komunitas adalah tambahan diubah oleh faktor biologis seperti rekrutmen, predasi, penggembalaan dan kompetisi antar spesies. Habitat atribut paling penting yang muncul untuk mempengaruhi komposisi komunitas. Selain faktor habitat, dan biologis mempengaruhi pengaruh antropogenik komposisi komunitas. Beberapa aspek pengaruh antropogenik.

MANGROVE

Mangrove berasal dari kata mangue/mangal (Portugish) dan grove (English). Secara umum hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe ekosistem hutan yang tumbuh di suatu daerah pasang surut (pantai, laguna, muara sungai) yang tergenang pasang dan bebas pada saat air laut surut dan komunitas tumbuhannya mempunyai toleransi terhadap garam (salinity) air laut.

Tumbuhan yang hidup di ekosistem mangrove adalah tumbuhan yang bersifat halophyte, atau mempunyai toleransi yang tinggi terhadap tingkat keasinan (salinity) air laut dan pada umumnya bersifat alkalin.

Hutan mangrove di Indonesia sering juga disebut hutan bakau. Tetapi istilah ini sebenarnya kurang tepat karena bakau (rhizophora) adalah salah satu family tumbuhan yang sering ditemukan dalam ekosistem hutan mangrove.

Flora ekosistem hutan mangrove sangat bervariasi, tetapi pada umumnya adalah flora yang bersifat halofit. Jenis-jenis tumbuhan yang hidup di hutan mangrove antara lain adalah :

  • Avicenniaceae (api-api, black mangrove, dll)
  • Combretaceae (teruntum, white mangrove, zaragoza mangrove, dll)
  • Arecaceae (nypa, palem rawa, dll)
  • Rhizophoraceae (bakau, red mangrove, dll)
  • Lythraceae (sonneratia, dll)

Sementara fauna ekosistem hutan mangrove juga sangat beragam, mulai dari hewan-hewan vertebrata seperti berbagai jenis ikan, burung, dan hewan amphibia, dan ular sampai berbagai jenis hewan invertebrata seperti insects, crustacea (udang-udangan), moluska (siput, keong, dll), dan hewan invertebrata lainnya seperti cacing, anemon dan koral.

Ekosistem hutan mangrove adalah salah satu ekosistem hutan yang sangat kaya akan flora dan faunanya.

Kegunaan hutan mangrove sangat banyak. Beberapa diantaranya dapat disebutkan dibawah ini :

  • Sebagai peredam gelombang dan angin, pelindung dari abrasi dan pengikisan pantai oleh air laut, penahan intrusi air laut ke darat, penahan lumpur dan perangkap sedimen.
  • Sebagai penghasil sejumlah besar detritus bagi plankton yang merupakan sumber makanan utama biota laut.
  • Sebagai daerah asuhan (nursery grounds), tempat mencari makan (feeding grounds), dan daerah pemijahan (spawning grounds) berbagai jenis ikan, udang dan biota laut lainnya.
  • Sebagai habitat bagi beberapa satwa liar, seperti burung, reptilia (biawak, ular), dan mamalia (monyet).
  • Sebagai penghasil kayu konstruksi, kayu bakar, bahan baku arang, dan bahan baku kertas.
  • Sebagai tempat ekowisata.

SIKLUS BIOGEKIMIA

Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi. Materi yang berupa unsur-unsur terdapat dalam senyawa kimia yang merupakan Materi dasar makhluk hidup dan tak hidup.

Siklus biogeokimia atau siklus organikanorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi jugs melibatkan reaksireaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga disebut siklus biogeokimia.

Siklus-siklus tersebut antara lain: siklus air, siklus oksigen, siklus karbon, siklus nitrogen, dan siklus sulfur. Di sini hanya akan dibahas 3 macam siklus, yaitu siklus nitrogen, siklus fosfor, dan siklus karbon.

1. Siklus Nitrogen (N2)

Gas nitrogen banyak terdapat di atmosfer, yaitu 80% dari udara. Nitrogen bebas dapat ditambat/difiksasi terutama oleh tumbuhan yang berbintil akar (misalnya jenis polongan) dan beberapa jenis ganggang. Nitrogen bebas juga dapat bereaksi dengan hidrogen atau oksigen dengan bantuan kilat/ petir. Tumbuhan memperoleh nitrogen dari dalam tanah berupa amonia (NH3), ion nitrit (N02- ), dan ion nitrat (N03- ).

Beberapa bakteri yang dapat menambat nitrogen terdapat pada akar Legum dan akar tumbuhan lain, misalnya Marsiella crenata. Selain itu, terdapat bakteri dalam tanah yang dapat mengikat nitrogen secara langsung, yakni Azotobacter sp. yang bersifat aerob dan Clostridium sp. yang bersifat anaerob. Nostoc sp. dan Anabaena sp. (ganggang biru) juga mampu menambat nitrogen.

Nitrogen yang diikat dalam bentuk ammonia diperoleh dari hasil penguraian jaringan oleh bakteri, kemudian dinitrifikasi oleh bakteri nitrit yaitu nitrosomonas dan nitrosococus sehingga menghasilkan nitrat yang akan diserap olrh akar tumbuhan. Selanjutnya oleh bakteri denitrifikan, nitrat diubah menjadi amonia kembali, dan amonia diubah menjadi nitrogen yang dilepaskan ke udara. Dengan cara ini siklus nitrogen akan berulang dalam ekosistem.

Gambar siklus nitrogen

2. Siklus Fosfor

Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah).

Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Oleh karena itu, fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Siklus ini berulang terus menerus.

Gbr. Siklus Fosfor di Alam

3.Siklus Karbon dan Oksigen

Di atmosfer terdapat kandungan COZ sebanyak 0.03%. Sumber-sumber COZ di udara berasal dari respirasi manusia dan hewan, erupsi vulkanik, pembakaran batubara, dan asap pabrik.

Karbon dioksida di udara dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk berfotosintesis dan menghasilkan oksigen yang nantinya akan digunakan oleh manusia dan hewan untuk berespirasi.

Hewan dan tumbuhan yang mati, dalam waktu yang lama akan membentuk batubara di dalam tanah. Batubara akan dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar yang juga menambah kadar C02 di udara.

Di ekosistem air, pertukaran C02 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung. Karbon dioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, COz yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah C02 di air. Lihat Gambar

Gbr. Siklus Karbon dan Oksigen di Alam

DAFTAR PUSTAKA

http://www.kathy-lilia.blogspot.com/2007_06_01_archive.jpg

http://andalasdejava.files.wordpress.com/2007/08/rantaian makanan.gif

http://hend-learning.blogspot.com/2009/05/ekosistem.html

http://bos.fkip.uns.ac.id/

Disusun Oleh

Gusti Septiandina 230210080002

Nais Annisa 230210080026

Marine Ecology

Ilmu Kelautan UNPAD 2010

Leave a comment »

10 Maret : KEJUJURAN HATI !

Tanggal 10 Maret merupakan hari yang bakal gue inget sampe kapan pun,
mungkin bagi sebagian orang ga penting kali ya,
tapi buat gw tanggal 10 Maret adalah hari dimana gw melanggar prinsip yg selama ini gw pegang .
Ditanggal 10 maret gw mencoba untuk jujur atas perasaan yang gw rasain,
bisa di bilang tanggal 10 Maret adalah tanggal KEJUJURAN HATI !
Entah itu suatu kebodohan atau apa,
dihari itu gw ngungkapin smua apa yang gw rasain pd sesosok pria yang bs di bilang biasa2 aja .
Gw jg smpe skrg heran kenapa gw bs jujur k dy .
prinsip yg gw pegang slama ini adalah sesuka2 nya gw sm cowok, secinta2 nya gw sm cowok, dan sesayang2 nya gw sm cowok, gw ga kan prnh ngungkapin itu duluan, cukup gw simpen di dlm hati meskipun itu sakit .
Yaa mgkn prinsip gw slh bagi bbrpa org .
Hmmm dan dgn mudah nya prinsip itu gw langgar pada tanggal 10 Maret .
DAMN !
Gw ud kyk ilang kepala .
Tp disatu sisi gw jg seneng,
dada gw bener2 plong .
Mgkn bagi sebagian org yg blm brani jujur sm prasaan sendiri,
mulai lah dr sekarang kalian coba utk jujur,
tp mgkn gw berharap nasib kalian ga kyk gw .
Gw berharap dgn kalian jujur,
WHO KNOWS gt ya tu cowok bakal nyambut cinta lo .
Ga kyk gw,
gw sm dy ga bs sama2 d karenakan status dy yg udh pnya ‘gandengan’ .
Tp tu cowok jg jujur sm gw kalo dy syg sm gw,
yaaa itu lagi dy ud pnya ‘gandengan’ .
Tragis mmg,
yaa ap daya .
Oke crta ga slesai smpe dsni,
bnyk hal yg terjadi stlh KEJUJURAN HATI .
Mgkn gw butuh berpikir sejenak kata2 apa yg bakal gw tls utk menceritakan kejadian stlh KEJUJURAN HATI .

Leave a comment »

Interaksi di Ekosistem Terumbu Karang Pantai Pangandaran

Pantai Pangandaran

Pantai pangandaran merupakan pantai yang berada di selatan Jawa barat, Ciamis  dengan letak astronomi antara 108°40′ BT dan 7°43′ LS. Topografi kawasan ini mulai dari landai sampai berbukit kecil dengan ketinggian tempat rata-rata 0 – 147 meter dari permukaan laut. Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, Pangandaran termasuk tipe iklim B dengan curah hujan rata-rata pertahun 3.196 mm, suhu udara antara

80 – 90%.

Pantai pangandaran memiliki berbagai macam ekosistem di antaranya

  • Ekosistem littoral, yang didominasi oleh rumput laut (Thalassia sp).
  • Ekosistem pantai, yang didominasi oleh Butun (Baringtonia asiatica), Ketapang

(Terminalia cattapa), Nyamplung (Callophylum inophylum), Pandan (Pandanus

rectorius) dan Waru laut (Hibiscus tiliaceus).

  • Ekosistem dataran rendah, yang didominasi oleh Laban (Vitex pubescens),

Marong (Cratoxylon formosum), Kisegel (Dilenia excelsa) dan

  • Ekosistem padang rumput, yang didominasi oleh Alang-alang (Impenata

cylindrica), Saliara (Lantena camara), Rumput teki (Kyllinga monocephala)

Pantai Pangandaran

Pangandaran ditumbuhi terumbu karang berikut ikan karang, rumput laut dan alga. Jenis-jenis tersebut antara lain : Acropora, Fungis sp, Favia sp, Oxypora, Chaetodon sp, Apolemichthys sp, Dasyllus sp. Berdasarkan hasil

pengamatan tahun 1998 tutupan terumbu karang terdiri dari karang batu (21,15%), Karang mati (42,65 %). Terumbu karang di Pangandaran banyak ditemui di Pantai bagian barat dan timur.

Kerusakan masif terumbu karang di Pangandaran dipengaruhi selain karena tsunami tetapi juga karena kerusakan alami akibat letusan Gunung Galunggung tahun 1982, akibat ulah manusia melalui pemanenan terumbu karang untuk suvenir, dan penangkapan ikan dengan metode peledakan maupun racun.

Terumbu Karang

Terumbu karang merupakan Ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis-­jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis­-jenis moluska, crustasea, echinodermata, polikhaeta, porifera, dan tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis plankton dan jenis-jenis nekton.

Terumbu karang

Pertumbuhan terumbu karang dibatasi oleh beberapa faktor seperti suhu, salinitas, cahaya, kedalaman, gelombang dan arus. Fungsi dari terumbu karang sendiri adalah untuk tempat asuhan, mencari makan, dan pemijahan ikan.

Ekosistem terumbu karang di pangandaran banyak ditemukan di pantai sebelah barat dan timur. Pada ekosistem terumbu karang terjadi interaksi makan-memakan hingga terbentuklah jaring makanan. Berikut skema jaring makanan yang terjadi di ekosistem terumbu karang secara umum:

Jaring makanan 1


Jaring makanan 2

Dari gambar diatas dapat dilihat yang bertindak sebagai produsen karang batu adalah : alga makro, alga koralin, bakteri fotosintetik ——> kemudian dimakan oleh  konsumen seperti Ikan, EkhinodermataAnnelidaPolikhaeta,KrustaseaHolothuroideaMoluska, dll ——> Selanjutnya akan dimakan oleh predator seperti ikan besar, cumi-cumi, dan lain-lain ——> Proses terakhir adalah penguraian oleh detritus.

Komunitas ikan piscivor  seperti hiu, kerapu, kuwe, dan kakap tergolong sebagai top predator di ekosistem terumbu karang.

Daftar Pustaka

Disusun oleh :

Gusti Septiandin 230210080002

Nais Annisa 230210080026

Marine Ecology

Ilmu Kelautan UNPAD 2010

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Lahir di Palembang pada tanggal 27 September 1991 pada hari jumat pukul 12.00 WIB, Gusti Septiandina nama yang diberikan kedua orang tua ku. Anak kesatu dari satu bersaudara, it means ANAK TUNGGAL🙂 Kata orang tua saya, dari kecil bakat tertulis saya sudah terlihat, semua perasaan yang saya rasakan akan saya cantumkan di tulisan berupa puisi, kalau mood saya sedang baik, satu hari saya bisa membuat 5-8 puisi. Saya juga hobby membaca, kalau untuk komik dari dulu sampai sekarang saya sangat menyukai komik detective conan, membaca komik itu seakan membawa kita kedalamnya, daya imajinasi yang tinggi diperlukan agar semakin terasa. Untuk sekarang, saya lebih suka membaca novel tentang pengembangan diri, ada satu buku yang sampai sekarang sangat berkesan untuk saya, yaitu 7 Habits Of Highly Effective People. Untuk olahraga sendiri saya lebih tertarik ke renang & bowling. Untuk jenjang pendidikan dr TK-SD-SMP-SMA saya selesaikan di Palembang. Terlintas di benak untuk jenjang perkuliahan saya memutuskan untuk merantau ke Bandung, berat memang harus berpisah dengan orang tua, tapi itu adalah suatu pilahan yang harus saya jalani demi menggapai cita-cita. Universitas Padjadjaran adalah pilihan yang tepat dan saya merasa bersyukur bisa melanjutkan studi di Program Studi Ilmu Kelautan UNPAD.

Comments (2) »

TIMUN LAUT HAMBAT MALARIA

Malaria disebabkan parasit yang hidup di tubuh nyamuk.  Ketika nyamuk mengisap darah dan menginfeksi manusia, parasit malaria mengalami perkembangan kompleks di usus semuk serangga ini.

Studi terbaru fokus bagaimana mengganggu pertumbuhan dan perkembangan kompleks dengan protein yang mematikan, CEL-III, ditemukan pada timun laut. Darah manusia yang terinfeksi malaria yang berisi parasitic gametocytes, dapat menciptakan sperma parasit dan telur dalam usus serangga tersebut. Sel sperma dan telur kemudia difertilisasi, memulai proses reproduktifitas parasit dan siklus dengan memproduksi keturunan invasif yang disebut ookinetes. Ookinetes kemudian berimigrasi melalui dinding perut nyamuk dan memproduksi sel-sel “anak” baru (sporozoites). Setelah 10-20 hari mereka akan matang pada kelenjar liur, dan siap untuk menginfeksi manusia.

Tim ini menggabungkan bagian dari gen lektin timun laut dengan bagian gen nyamuk, sehingga  nyamuk mengeluarkan lektin pada ususnya selama mengonsumsi darah. Pelepasan lektin bersifat racun bagi ookinate, karena itu membunuh parasit yang terdapat di perut nyamuk. Dalam uji laboratorium menunjukan bahwa pemberian lektin ke dalam usus nyamuk dapat secara bermakna merusak perkembangan parasit malaria di perut nyamuk, dan secara potensial mencegah transmisi pada orang lain. Indikasi awal menyarankan, protein timun laut efektif pada lebih dari satu dari 4 parasit berbeda yang dapat menyebabkan malaria
pada manusia.

Prof.Bob Sinden dari Imperial College London’s Department of Life Sciences mengatakan,”Hasil ini sangat menjanjikan dan menunjukan bahwa nyamuk yang menjalani perubahan genetika memiliki dampak yang jelas pada kemampuan parasit untuk memperbanyak diri pada tubuh nyamuk penjamu.”

Menurut Prof. Sinden, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum teknik-teknik tersebut dapat digunakan melawan penyebaran malaria. Karena, meski protein dari timun laut secara bermakna mengurangi jumlah parasit pada nyamuk, protein ini tidak secara keseluruhan menghilangkan semua parasit dari semua nyamuk . Sehingga, dalam tahap perkembangan ini, tidak cukup mencegah transmisi malaria pada manusia. Prof.Sinden berharap, studi ini meningkatkan pemahaman para ilmuan atas proses yang cukup kompleks, bagaimana parasit malaria ditransmisikan. “Tujuan kita saat ini adalah mencari, bagaimana menghasilkan nyamuk dengan susunan genetik tertentu, sehingga parasit malaria tidak dapat berkembang di tubuh nyamuk,” katanya.

Sumber : www.wikipedia.com

Comments (1) »

Paralytic Shellfish Poisoning (PSP)

TUGAS MIKROBIOLOGI : Paralytic Shellfish Poisoning (PSP)

Disusun Oleh : GUSTI SEPTIANDINA

NPM : 230210080002

ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

2008-2009

Paralytic Shellfish Poisoning (PSP)

Latar Belakang

TOKSIN adalah suatu substansi yang mempunyai gugus fungsional spesifik, letaknya di dalam molekul dan menunjukkan aktivitas fisiologis kuat. Toksin atau racun biasanya terdapat dalam tubuh hewan, tumbuhan bakteri dan makhluk hidup lainnya, merupakan zat asing bagi korbannya atau bersifat anti-gen dan bersifat merugikan bagi kesehatan korbannya.

Adanya toksin pada kekerangan dan manusia yang mengkonsumsi makanan tercemar toksin berakibat menjadi sakit merupakan aspek kesehatan masyarakat veteriner (kesmavet). Pencemaran laut seperti blooming alga sebagai akibat secara langsung atau tidak langsung oleh pembuangan bahan atau limbah ke dalam laut yang berasal dari kegiatan manusia dapat menghasilkan racun atau toksin yang dimangsa oleh kekerangan dan terakumulasi dalam konsentrasi yang dapat membahayakan manusia yang mengkonsumsinya. Toksin dari alga beracun tersebut salah satunya disebut dengan Paralytic Shellfish Poisoning (PSP).

Akhir-akhir ini ledakan pertumbuhan alga (ganggang) beracun sering terjadi di berbagai belahan dunia. Alga adalah organisme eukariotik bersel tunggal dan mikroskopik yang sebagian hidup di laut. Hampir sebagian besar spesies alga atau fitoplankton tidak berbahaya dan berfungsi sebagai penghasil energi pada rantai makanan di laut.

Alga tersebut terdistribusi secara global, tetapi kejadiannya sering secara mendadak dan sulit diramalkan, sehingga kasus kematian biota laut secara besar-besaran pun terjadi akibat racun dari alga tersebut.

Pada waktu tertentu, alga tumbuh sangat cepat atau bloom dan berakumulasi dengan densitas sangat padat sehingga menimbulkan penampakan berupa perubahan warna pada permukaan air laut yang sangat jelas.

Red tide adalah nama umum untuk menggambarkan fenomena tersebut di mana spesies fitoplankton tertentu yang terdiri atas pigmen kemerah-merahan atau reddish pigments dan bloom tersebut mengakibatkan perairan menjadi berwarna merah. Karena itu, istilah red tide kurang tepat karena mereka tidak berasosiasi dengan pasang surut (tides) dan biasanya tidak harmful. Adapun spesies yang harmful biasanya tidak pernah mencapai kepadatan sel (bloom) yang diperlukan untuk mengubah warna air laut. . Ada beberapa jenis alga dari keluarga Red Tide yang kabarnya memiliki racun yang cukup kuat.

Sejumlah kecil spesies alga menghasilkan toksin yang dapat ditransferkan melalui jaringan makanan di mana mereka dapat mempengaruhi dan bahkan membunuh organisme yang lebih tinggi tingkatannya, seperti zooplankton, kerang-kerangan, ikan, burung, mamalia laut, dan bahkan manusia yang mengonsumsinya baik secara langsung maupun tidak langsung. Sekarang para peneliti lebih memakai istilah harmful algae blooms (HABs) untuk menggambarkan fenomena yang berkaitan dengan toksin maupun dampak negatif dari alga.

Paralytic Shellfish Poisoning (PSP).

Senyawa toksik utama dari ”paralytic shellfish poison” adalah ”saxitoxin” yang bersifat ”neurotoxin”. Keracunan toksin ini dikenal dengan istilah ”Paralytic shellfish poisoning” (PSP). Keracunan ini disebabkan karena mengkonsumsi kerang-kerangan yang memakan dinoflagelata beracun. Dinoflagelata adalah agen saxitoxin dimana zat terkonsentrasi di dalamnya. Kerang-kerangan menjadi beracun di saat dinoflategelata sedang melimpah karena laut sedang pasang merah atau ‘red tide’.

Di Jepang bagian selatan ditemukan spesies kepiting (Zosimus aeneus), hewan ini mengakumulasi dalam jumlah besar saxitoxin. Dan dilaporkan menyebabkan kematian pada manusia yang mengkonsumsinya. Jenis plankton yang memproduksi saxitoxin adalah Alexandrium catenella dan A. tamarensis, Pyrodinium bahamense.

Paralytic shellfish poisoning (PSP) pada umumnya disebabkan oleh kontaminasi toksin saxitoxin yang dihasilkan oleh alga berbahaya jenis Alexandrium spp., Gymnodinium catenatum, dan Pyrodinium bahamense. Untuk mendeteksi PSP digunakan metode direct competitive ELISA (Usleber et al.,1991).

Keracunan Saxitoxin menimbulkan gejala seperti rasa terbakar pada lidah, bibir dan mulut yang selanjutnya merambat ke leher, lengan dan kaki. Kemudian berlanjut menjadi mati rasa sehingga gerakan menjadi sulit. Dalam kasus yang hebat diikuti oleh perasaan melayang-layang, mengeluarkan air liur, pusing dan muntah. Toksin memblokir susunan saraf pusat, menurunkan fungsi pusat pengatur pernapasan dan cardiovasculer di otak, dan kematian biasanya disebabkan karena kerusakan pada sistem pernapasan.

Pada kasus yang berat dapat mengakibatkan gangguan pernapasan dalam waktu 24 jam setelah konsumsi kerang-kerangan yang beracun. Jika pasien tidak bisa bernapas atau detak tidak terdeteksi, pernapasan buatan dan CPR diperlukan sebagai pertolongan pertama. Tidak ada penawarnya dan terapi merupakan cara terbaik untuk penyembuhan pasien.

Pertolongan hanya dapat dilakukan dengan cara menguras isi perut dan memberikan pernafasan buatan. Pada suatu penelitian sampel klinis dari terjangkitnya PSP di Alaska tahun 1994, pembuangan saxitoxin dari darah manu-sia berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam, juga pada pasien yang mengalami kelumpuhan pernafasan dan dibantu dengan bantuan pernafasan. Pembuangan ini sebagian besar melalui urin. Saat ini masih belum tersedia penangkal untuk PSP Antibodi monoklonal anti saxitoxin yang diuji secara in vitro dan in vivo menunjukkan perlindungan terhadap terikat-nya saxitoxin dan pengurangan gerakan di sekeliling saraf aki-bat saxitoxin pada saraf mencit, diduga antibodi mungkin ber-potensi menyediakan reagen yang berguna untuk perlindungan terhadap toksisitas secara in vivo. Sebagai tambahan, peng-halang saluran K, 4-aminoantipirin, baru-baru ini menunjukkan pembalikan efek secara signifikan pada serangan saxitoxin dalarn mencit, mungkin hal ini berguna sebagai penangkal bagi PSP. Pada penderita PSP akan muncul gejala yang dimulai dengan kekebalan pada wajah, bibir dan jari-jari tangan, gatal-gatal, kejang mulut, pening, paralisis, serangan jantung hingga kegagalan sistem pernafasan dalam waktu 3 sampai 12 jam.

PSP dapat dihindari dengan program monitoring proaktif dalam skala besar, yaitu dengan mengukur tingkat toksin pada kerang-kerangan dan penutupan segera pada area yang terkontaminasi racun ini.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=52494

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0402/04/ilpeng/836031.htm

http://www.pelita.or.id/cetakartikel.php?id=25623

http://www.conectique.com/get_updated/article.php?article_id=610

Wiadnyana, N,N., 1996, Mikroalga berbahaya di Indonesia. Oseanology dan Limnology di

Indonesia, 29, 15 – 28.

Leave a comment »

Proses Glikolisis

Disusun Oleh : GUSTI SEPTIANDINA

NPM : 230210080002

ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS PERIKANAN & ILMU KELAUTAN

2008-2009

PROSES GLIKOLISIS

Glikolisis merupakan jalur, dimana pemecahan D-glukosa yang dioksidasi menjadi piruvat yang kemudian dapat direduksi menjadi laktat. Jalur ini terkait dengan metabolisme glikogen lewat D-glukosa 6-fosfat. Glikolisis bersangkutan dengan hal-hal berikut :

1. Pembentukan ATP dalam rangkaian ini molekul glukosa dioksidasi sebagian.
2. Produksi piruvat
3. Pembentukan senyawa antara bagi proses-proses biokimiawi lain misalnya, gliserol 3-fosfat. Untuk biosintesis trigliserid dan fosfolipid, 2, 3–bisfosfogliserat dalam eritrosit, piruvat untuk biosintesis L–alanin, dan sebagainya.

Glikolisis dapat berlangsung dalam keadaan aerob, bila sediaan oksigen cukup untuk mempertahankan kadar NAD+ yang diperlukan, atau dalam keadaan anaerob (hipoksik), bila kadar NAD+ tidak dapat dipertahankan lewat sistem sitokrom mitokondrial dan bergantung pada usaha temporer perubahan piruvat menjadi laktat. Glikolisis anaerob, yang menaruh kepercayaan temporer pada piruvat merupakan usaha tubuh dalam menantikan pulihnya kecukupan oksigen. Dengan demikian glikolisis merupakan keadaan ini disebut hutang oksigen.

Pemeliharaan kadar oksigen dan karbondioksida tertentu dalam sel essensial untuk fungsi normalnya. Tetapi situasi abnormal dapat terjadi, bila tubuh menderita stres. Stres demikian mungkin berupa keperluan energi tinggi misalnya, labihan ekstrim atau hiperventilasi esenfalitis, apabila laju pengangkutan oksigen kedalam sel tidak sama kecepatannya dengan reaksi katabolik oksidatif penghasil ATP. Karena reaksi-reaksi oksidatif ini dikaitkan dengan oksigen lewat NAD+ / NADH dan sistem sitokrom, dan karena hal-hal tersebut tidak dapat berlangsung kecuali NADH + H + diubah menjadi NAD+, diperlukan langkah darurat yang melibatkan piruvat. Hal ini mengakibatkan konversi piruvat menjadi laktat. Bila kadar laktat dalam darah meningkat, pH menurun, dan timbul tanda-tanda yang diperkirakan, yakni pernafasan cepat dan kehabisan energi. Variasi kadar laktat darah yang mengikuti perubahan-perubahan dalam aktivitas jasmani. Laktat yang diproduksi dan dilepaskan kedalam darah diubah kembali menjadi piruvat dalam hati apabila diperoleh cukup oksigen.

Regenerasi NAD+ oleh piruvat.
Enzim yang mengkatalis reaksi dalam tahapan glikolisis dijumpai dalam sitoplasma sel. Disinilah glikolisis berlangsung. Glikolisis dimulai dengan fosforilasi glukosa menjadi glukosa 6–fosfat.

Gugus fosforil pada glukosa 6 fosfat berasal dari ATP. Nampaknya agak mengherankan karena glikolisis merupakan lintasan katabolisme, kita mengharapkan memperoleh ATP, bukan menggunakannya. Glukosa 6–fosfat diubah menjadi fruktosa 6–fosfat :

Fruktosa 6–fosfat mengalami fosfosilasi menjadi fruktosa 1, 6–difosfat dengan menggunakan satu molekul ATP lagi yang diinvestasikan.
Setelah sel telah mengintenvestasikan dua molekul ATP untuk setiap molekul glukosa yang dirombak. Perubahan fruktosa 6–fosfat menjadi fruktosa 1, 6–difosfat telah terbentuk, senyawa ini harus terus mengalami lintasan glikolisis. Jadi, kita dikatakan bahwa fosforilasi fruktosa 6–fosfat menjadi 1,6–difosfat adalah tahap wajib dari glikolisis.
Fruktosa 1,6–difosfat sekarang terpecah menjadi, memberikan sepasang senyawa berkorban 3, yaitu dihidroksiaseton fosfat dan gliserol dehida 3–fosfat. Hanya gliseraldehid 3–fosfat yang akan digunakan dalam tahap lanjutan glikolisis. Tetapi, dihidroksiaseton bukanlah limbah. Alam bersifat hemat dan sel mempunyai enzim yang mengubah dihidroksiaseton fosfat menjadi gliseraldehida 3–fosfat. Karena satu molekul glukosa telah menyediakan dua molekul gliseraldehida 3–fosfat, kita harus mengingatnya untuk membuat perhitungan keseluruhan.
Enzim kemudian mengubah gliseraldehida 3–fosfat menjadi 1,3–difosfogliserat dalam reaksi oksidasi penghasil energi yang pertama dalam katabolisme glukosa. Enzim menggunakan NAD+ sebagai koenzim. NAD+ direduksi menjadi NADH dengan menerima dua elektron dan satu proton dari substrat aldehida selama reaksi berlangsung. Gugus fosfosil yang baru pada produk organik berasal dari ion. Fosfat anorganik yang ada dalam sitoplasma, sehingga tak ada ATP yang dipakai disini. Kenyataannya, 1,3–difosfogliserat sendiri adalah senyawa kaya energi, yaitu anhidrida campuran dari asam karboksilat dan asam fosfat yang dapat mengalihkan gugus fosforilnya kepada ADP. Pengalihan ini berlangsung pada tahap sesudah glikolisis.
Karena sel menginvestasikan dua molekul ATP dan sekarang mendapatkan dua, ini baru mencapai titik impas. Dari titik ini, setiap ATP yang dihasilkan merupakan keuntungan. Tahap berikutnya dalam glikoliis adalah pengalihan gugus fosforil pada 3–Fosfogliserat :

Produk reaksi ini, yaitu 2–Fosfogliserat melepaskan molekul air untuk menghasilkan fosfoenolpiruvat.
Fosfoenolpiruvat adalah molekul fosfat yang kaya energi, yang mampu memberikan gugus fosforilnya kepada ADP.
Karena perombakan satu molekul glukosa akhirnya menghasilkan dua molekul fosfoenolpiruvat, maka dua molekul ADP dapat difosforilasi menjadi ATP jika fosfoenolpiruvat dari satu molekul glukosa diubah menjadi piruvat. Kedua molekul ATP ini adalah keuntungan yang diperoleh dalam glikolisis.
Pembentukan piruvat mengakhiri proses glikolisis aerob. Berikut ini adalah pokok yang terjadi dalam oksidasi satu molekul glukosa :
1. Terbentuk dua molekul piruvat.
2. Dua molekul NAD+ telah direduksi menjadi NADH
3. Jumlah bersih sebesar dua molekul ADP telah difosforilasi menjadi ATP (empat molekul ATP yang diperoleh dikurangi dua yang dinvestasikan).

Tabel 15.1. Mengikhtisarkan reaksi glikolisis :

1. Glukosa Glukosa 6-fosfat

2. Glukosa 6–Fosfat Fruktosa 6–fosfat

3. Fruktosa 6–Fosfat Fruktosa 1,6–difosfat

4. Fruktosa 1,6–difosfat

Dihidroksiaseton fosfat Gliseraldehida 3-fosfat

5. Gliseraldehida 3–Fosfat 1,3–difosfogliserat

6. 1,3–difosfogliserat 3–Fosfogliserat

7. 3–Fosfogliserat 2-Fosfogliserat

8. 2–Fosfogliserat Fosfoenolpiruvat

9. Fosfoenolpiruvat piruvat

Contoh proses glikolisis itu sendiri terjadi pada Glikolisis pada sel ragi dan glikolisis pada sel darah merah.

A. Glikolisis pada Sel Ragi
Pada hasil percobaan yang telah dilakukan didapat bahwa pada glikolisis sel ragi didapat pada tabung ke 1 (suspensi ragi + larutan glukosa) ditambahkan pereaksi Benedict dan setelah dipanaskan ternyata proses glikolisis berjalan dengan baik dan semua glukosa terhidrolisis. Pada tabung ke 2 (suspensi ragi dipanaskan + larutan glukosa) ditambahkan pereaksi Benedict dan setelah dipanaskan ternyata proses glikolisis masih berjalan, seharusnya proses glikolisis tidak berjalan, hal ini disebabkan karena ragi yang dipanaskan sel ragi akan mati maka tidak terjadi glikolisis. Pada tabung ke 3 (suspensi ragi + larutan glukosa + laruitan arsenat (AS2O3 1 %) + pereaksi Benedict) setelah dipanaskan ternyata glikolisis tetap berjalan. Arsenat di sini seharusnya sebgai penghambat/inhibitor agar tidak terjadi glikolisis, ternyata arsenat di sini tidak menghambat glikolisis, glukosanya habis karena glikolisis tetap berjalan. Fungsi penambahan arsenat di sini sebagai inhibitor/penghambat proses glikolisis dan glukosa yang dihasilkan tidak habis (tidak semua glukosa terhidrolisis). Jika dilihat dari kadar glukosa, pada tabung ke 1 kadar glukosanya lebih sedikit (endapan yang terlihat sedikit) sebelum dipanaskan dan setelah dipanaskan endapan berwarna kuning kecoklatan, ini menandakan bahwa kadar glukosa berkurang, proses glikolisis tetap terjadi tetapi hanya sedikit glukosa yang terhidrolisis. Begitu juga hal ini pada tabung ke 2 endapan terlihat banyak (sebelum dipanaskan) terdapat endapan kuning setelah dipanaskan, glikolisis juga tetap terjadi tetapi hanya sedikit. Pada tabung ke 3. terdapat endapan kuning setelah dipanaskan, ini menandakan bahwa kadar glukoa telah berkurang, walaupun pada tabung ke 3 ini sudah ditambahkan arsenat yang dijadikan sebagai inhibitor/penghambat, tetapi arsenat tidak menghambat glikolisis, glikolisis dapat berjalan walau hanya sedikit. Pereaksi Benedict di sini digunakan untuk indikasi banyak atau tidaknya glukosa.

Reaksi Glukosa + Benedict

2 Cu+ + 2 OH- Cu2O + H2O
(endapan)

b. Glikolisis pada Sel Darah Merah

Pada tabung ke 1 dan ke 2 digunakan sebagai kontrol positif dan negatif. Bertujuan untuk membandingkan dengan tabung ke 3 dan ke 4 digunakan untuk melihat inhibitor. Pada tabung ke 1, ke 3, dan tabung ke 4 ditambahkan satu tetes darah . Masing-masing tabung ditambah larutan buffer fosfat (7 ml). Lalu ketiga tabung tersebut dtambahkan dengan glukosa 2 % sebanyak 1 ml. Pada tabung ke 4 dan ke 3 ditambah lagi dengan larutan arsenat pada tabung ke 4 dan ditambah lagi dengan larutan Hg(CH3COO)2 pada tabung ke 3. Setelah itu keempat tabung reaksi tersebut diinkubasi pada suhu 37 oC selama 30menit, kemudian dipanaskan selama 5 menit. Pada tiap tabung terdapat endapan yang berwarna berbeda-beda. Pada tabung ke 1 dan ke 2, terdapat endapan merah bata, ini menandakan semua glukosa terglikolisis. Sedangkan pada tabung ke 3 dan ke 4, tabung ke 3 endapan berwarna coklat dan tabung ke 4 berwarna kuning, ini menandakan proses glikolisis tetap berjalan, walaupun ada ditambahkan larutan penghambat (arsenat dan larutan Hg(CH3COO)2).
Dari warna endapan yang ada kita dapat membandingkan pada tabung ke 1 dan ke 2 proses glikolisis berlangsung dengan baik karena kadar glukosa berkurang, glikolisis berjalan dengan baik karena tidak ada yang menghambat. Sedangkan pada tabung ke 3 dan ke 4 yang sudah diberi larutan penghambat/inhibitor (arsenat dan larutan Hg(CH3COO)2) glikolisis tetap berjalan, karena kerja penghambat di sini hanya sedikit sekali menghambatnya, terlihat dari berkurangnya sedikit glukosa dari warna endapan yang terlihat berbeda antara tabung ke 3 dan ke 4 dengan tabung ke 1 dan ke 2

Reaksi Peragian

Reaksi Fermentasi Asam Laktat

Prosesnya :
1. Glukosa Asam piruvat (proses glikolisis)

2. Dehidrogenasi Asam Piruvat akan terbentuk Asam Laktat

Energi yang terbentuk dari glikolisis hingga terbentu asam laktat
8 ATP – 2 NADH2 = 8 – 2 (3 ATP) = 2 ATP

Comments (12) »