“CLIMATE CHANGE”

NEWS : “Isu utama yang harus ditangani dalam mengantisipasi perubahan iklim global adalah bagaimana agar sistem iklim bumi tidak terganggu dan terus memburuk. Para wakil pemerintah berbagai negara lalu membentuk sebuah panel untuk melakukan pembicaraan-pembicaraan awal tentang isu ini. Setelah melalui proses yang panjang, kerangka PBB tentang Konvensi Perubahan Iklim (UN Framework Convention on Climate Change, UNFCCC) akhirnya diterima secara universal sebagai komitmen politik internasional tentang perubahan iklim pada KTT Bumi tentang Lingkungan dan Pembangunan (UN Conference on Environment and Development, UNCED) di Rio de Janeiro, Brasil, 1992.”

Ada kesan bahwa isue “climate change” masih berada pada tataran dunia dan nasional. Walaupun media massa di Indonesia sudah sering memberitakan, namun “getar” nya belum cukup meluas di masyarakat umum. Pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap masalah ini relatif kurang, termasuk di dunia kampus. Untuk itu diperlukan sosialisasi yang luas dan terus menerus, terutama kepada pemerintah daerah, dunia usaha dan kalangan terdidik yang untuk selanjutnya diteruskan kepada masyarakat umum.

Kegiatan di Bali pada bulan Desember 2007 dapat dijadikan momentum di dalam upaya mensosialisasikan substansi dan permasalahan ”climate change”. Penekanan sosialisasi terhadap pemerintah daerah, terkait dengan otonomi/disentralisasi pemerintahan, berbagai kebijakan dan langkah operasional yang notabene bisa menjadi masalah “climate change” sangat ditentukan di daerah. Pemerintah pusat diharapkan memiliki kebijakan formal, regulasi dan rencana aksi yang jelas dan terukur, serta berperan di dalam koordinasi, evaluasi dan kontrol, baik terhadap dapartemen, daerah, dunia usaha maupun masyarakat secara keseluruhan. Perlu penanganan yang lebih nyata dan terpublikasikan dengan baik, terhadap kasus-kasus yang terkait dengan faktor-faktor penyebab “climate change”.

Agar masyarakat merasakan bahwa “climate change” sebagai masalah, maka perlu diinformasikan kondisi nyata “climate change” dan dampaknya yang sudah dan akan terjadi terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat. Selain dibuat pada tataran global dan nasional, juga harus dibuat sampai tingkat daerah dan masyarakat. Hal ini untuk menunjukkan bahwa “climate change” adalah masalah nyata yang dampaknya (sudah) dirasakan baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat. Melakukan kegiatan untuk menyelamatkan bumi, seharusnya didasarkan atas dasar kesadaran diri sendiri dan bukan karena ada tekanan global atau negara maju.

Selain masalah nyata dampak “climate change” pada saat ini, perlu pula dibuat prediksi pada tataran lokal dan nasional tentang dampak “climate change” di masa depan terutama apabila tidak melakukan upaya apapun. Hal ini terkait dengan “perencanaan” antisipatif terhadap dampak, penyusunan langkah-langkah adaptasi dan aksi lainnya. Melalui pendekatan antisipatif, masyarakat disiapkan untuk mampu beradaptasi terhadap perubahan yang akan terjadi. Untuk hal ini diperlukan data dan peta dasar yang akurat untuk membuat prediksi, skenario, antisipasi dan aksi apabila terjadi dampak.

Sesuai dengan tingkatannya, isu tentang ”Climate change” diajarkan mulai lah sejak dini, dimulai dari TK hingga Universitas. Substansi dari pengajaran adalah kesadaran lingkungan, adaptasi dan langkah-langkah aksi apabila ada kejadian. Di universitas yang memiliki SDM memadai, diharapkan ada studi-studi yang mendalam tentang hal-hal yang terkait dengan ”climate change”, terutama yang bersifat teknologis.

Adapun artikel yang saya ambil dari http://www.depkominfo.go.id/2009/07/14/negara-di-dunia-khawatirkan-dampak-buruk-perubahan-iklim/ mengenai dampak dari “climate change” itu sendiri yang artikelnya berisi sebagai berikut :

Jakarta, 14/7/2009 (Kominfo-Newsroom) Menteri Negara Lingungan Hidup mengatakan, semua negara di dunia berkomitmen untuk mencegah terjadinya dampak buruk dari perubahan iklim akibat kenaikan suhu dua derajat celsius yang akan menimbulkan permasalah di dunia. Terjadinya kenaikan suhu akan menyebabkan naiknya permukaan air laut, dan bagi Indonesia sebagai negara kepuluaan, hal itu sangat serius, karena akan banyak pulau kecil milik Indonesia tenggelam, kata Menneg LH Rachmat Witoelar dalam acara jumpa pers di kantor Menneg LH di Jakarta, Selasa (14/7).

Kepedulian negara di dunia sangat besar terhadap adanya perubahan iklim, sehingga digelar pertemuan untuk membahas masalah pemanasan global, termasuk pertemuan. Major Economies Forum (MEF) di Italia pada 9 juli 2009 lalu yang dihadiri oleh seluruh kepala negara MEF, termasuk Presiden Barack Obama dari AS. Indonesia juga diundang, namun karena sangat sibuk dengan kegiatan pemilu, pimpinan negara dari Indonesia tidak bisa hadir.

Dalam pertemuan itu Presiden Barack Obama mengatakan, untuk mencegah terjadinya perubahan iklim, negaranya telah menerapkan UU tentang Energi dan Perubahan Iklim dengan penurunan empat persen BBM hingga tahun 2020 dengan konvensi penggunaan bahan bakar ramah lingkungan, kata menteri.

Dalam pertemuan di Italia itu, kata Menneg LH, negara-negara G8 sepakat menargetkan jangka panjang penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 80 persen pada tahun 2050. Meski target itu ambisius, katanya, namun hal itu harus dilakukan untuk menyelamatkan dunia. Semua negara, harus mulai melakukannya, dan negara maju wajib menyisihkan dana untuk membantu negara berkembang melakukan penurunan emisi GRK itu. Sedangkan negara berkembang, menurut menteri, harus mampu melaksanakan adaptasi perubahan iklim dan memprioritaskan pembangunannya untuk mengurangi kemiskinan.

Bagi negara-negara negara berkembang tertentu, termasuk Indonesia, pertemuan itu meminta dapat memberikan kontribusi signikan terhadap emisi GRK global. Karena itu penetapan target secara global oleh semua negara sudah menjadi pilihan yang tidak dapat dihindarkan, kata Menneg LH, dan hal itu guna mengurangi dampak dari perubahan iklim, terutama bagi negara-negara miskin, berkembang dan kepuluauan kecil.

Bahkan Sekjen PBB dalam acara KTT MEF itu menyambut baik adanya kesepakatan negara di dunia terhadap penurunan emisi GRK tersebut . Untuk itu negara maju harus mampu menurunkan emisinya pada 2020 hingga 20-40 persen dan secara bertahap 80 persen pada tahun 2050, katanya.

Rachmat Witoelar mengatakan, pada akhir pertemuan Presiden AS mengajak semua negara maju untuk meningkatkan kerjasama pendanaan dan transfer teknologi serta mengadakan pertemuan lanjutan dengan melibatkan para menteri keuangan dalam KTT G20 di AS, September 2009 mendatang. (T.mf/ysoel)

http://www.depkominfo.go.id/2009/07/14/negara-di-dunia-khawatirkan-dampak-buruk-perubahan-iklim/

Tanggapan dari saya setelah membaca artikel tersebut adalah :

  1. Saya sebagai seorang mahasiswa yang peduli akan iklim dunia, saya tidak mau pemerintah hanya sekedar peduli dalam slogan. Tunjukan sikap kongkrit yang bisa menjadi teladan dan membangkitkan semangat juang bagi insan lainnya agar terpanggil jiwa dan nuraninya untuk bersama-sama berjuang bahwa musuh bersama kita sekarang adalah perubahan iklim, tentunya pelaku industri dan pemerintah yang duduk manis dan mengaminkan produksi dan perdagangan karbon. Kami tidak butuh semangat berwacana dan jangan pernah menampakan wajah dan kata-kata beretorika pada komunitas apapun apabila belum melakukan sebuah aksi tentang perubahan iklim. Tidak ada kata terlambat, semua negra-negara miskin dan sedang berkembang seluruh dunia sudah muak dengan perubahan iklim.
  2. Salah satu masalah khususnya di Negara kita Indonesia adalah kemiskinan yang nyata. Peran pemerintah juga hanya berupa jargon-jargon saja tanpa visi yang jelas seakan-akan hanya seremoni saja, kelanjutannya tidak pernah tahu.
  3. Masalaah Teknologi yang ramah lingkungan masih terbentur pada biaya dan juga lebih mengedepankan keuntungan jangka pendek alias proyek yang menguntungkan.
  4. Teknologi energi ramah lingkungan, menurut saya pemerintah “malas” untuk melakukan penelitian sendiri. Alasan klasiknya adalah tidak ada dana. Peneliti2 maunya proyek yang menguntungankan secara materi bagi individu bukan secara jangka panjang dan seluruh masyarakat luas, ini masih menjadi identitas yang kental dari sebagian besar peneliti2 kita.
  5. Pemerintah selalu bilang bahwa teknologi terbaru itu mahal perlu investasi besar2an. Menurut saya tidak, asal di bangun di masyarakat. Dengan swadaya bisa menghasilkan energinya sendiri. Misalnya Nelayan dididik agar bisa membuat Solar sendiri dengan limbah ikan di lingkungannya. Para petani bisa memanfaatkan jerami sisa panen untuk membuat “bensin” sendiri. Para peternak bisa membuat bio-gas sendiri.

Mari kita mulai selamatkan bumi kita dengan 5R (reduce, reuse, recycle, replant and rehabilitation) yang mulai dari diri kita sendiri. Jangan siksa bumi kita dan hanya menguras habis apa yang ada diatasnya, sayangilah bumi karena bumi salah satu pemberian Allah bagi seluruh makhluk di bumi untuk tempat tinggal.

Dengan langkah nyata yang dilakukan, diharapkan akan menjadi modal dasar sebagai pembuktian kepada dunia, bahwa Indonesia memiliki kesadaran diri sendiri (bukan atas desakan pihak lain) sehingga serius di dalam menangani dan menghadapi ”Climate Change”.

GO GREEN, YOU LOOK SO NICE WITH GREEN !!!

28 Tanggapan so far »

  1. 1

    wah,,
    cukup seru n menarik membaca artikel n tanggapan mengenai topik yg anda bahas d topik di sinii,,
    memang perubahn iklim (CLIMATE CHANGE) saat2 ini sangat berpengaruh buruk bagi bumi kita ini,
    seperti telah hilangnya beberapa pulau d indonesia, perubahn suhu dan iklim yg tidak teratur, bahkan berakibat punahnya bebrapa flora dan fauna yg tidak dapat beradaptasi,

    mau nanya ni,,
    d jawab y gus,,!!

    anda sebagai seorang mahasiswa jurusan ilmu kelautan,
    langkah2 apa atau tindakan apa saja yang anda telah lakukan atau mungkin yg anda ingin lakukan kedepan setidaknya untuk mengantisipasi perubahan iklim yang saat ini sudah sangat berbahaya bagi bumi kita ini,,

    d jawab y,,

    makasih,,,

    • 2

      gusti0909 said,

      Makasih joshua buat komentarnya…
      Menurut saya perlu penanganan yang lebih nyata dan terpublikasikan dengan baik terhadap kasus-kasus yang terkait dengan faktor-faktor penyebab “climate change”.
      Mungkin yang akan saya lakukan adalah (bukan saya saja, tapi kita semua) yaitu seperti yang saya telah katakan sebelumnya kepada saudari shifa yaitu dengan perlakuan sederhana,
      jika kita melihat sampah di sekitar kita, pungut, dan taruh di tong sampah.
      Jika tidak ada tempat sampah simpan.
      Kalau sudah berhasil terapkan seumur hidup.

      Dan yang terpenting adalah kurangi kadar CO2 di udara.
      Penggunaan freon seperti Air Conditioner juga cukup mengancam.
      Maka dari itu gunakan seoptimal mungkin,
      kalau tidak perlu jangan digunakan.
      Serta lampu dan sebagainya,
      cukup dengan kadar yang PAS pada saat pemakaianya….
      okay🙂

      SEMOGA BERMANFAAT .

  2. 3

    mantap nih blognya..
    nina saya mau nanya nih… Hasil nyata dari KTT MEF itu apa aja???
    MAKASI YAH..sekalian kommen blog saya ya..
    hendrasurianta.wordpress.com

    • 4

      gusti0909 said,

      Makasih abang .
      Abang juga bagus blog nya .🙂

      Menurut informasi yang saya dapat,
      salah satu hasil dari pertemuan KTT MEF yang telah berlangsung tanggal 9 Juli 2009 di Italia adalah disepakatinya oleh para pemimpin dunia ini untuk memobilisasi dana sebesar paling sedikit USD 20 Milyar selama 3 tahun ke depan untuk mencapai tujuan ketahanan pangan global.

      Keputusan ini lebih tinggi 5 miliar US $ dari target seperti yang tercantum dalam draft joint statement sebelumnya. Dari target komitmen tersebut, terindikasi bahwa Jepang akan memberikan dana USD 4 milliar, AS USD 3,5 miliar, sedangkan sisanya akan dipenuhi oleh Kanada, Uni Eropa, serta negara lainnya. Dana tersebut nantinya akan digunakan untuk pembangunan pertanian berkelanjutan dengan tetap memberikan jaminan kepastian terhadap bantuan pangan khususnya dalam kondisi darurat.

      Hasil lain yang juga dikemukakan adalah perlunya penerapan strategi komprehensif guna membantu negara berkembang dalam aspek ketahanan pangan dengan fokus yang lebih diarahkan kepada peningkatan penguatan kapasitas.

      Untuk informasi lebih lanjut mungkin saudara hendra bisa browsing-browsing di internet atau sebagai nya .
      Makasih .🙂

  3. 5

    jimmykalther said,

    CLICK HERE AND COMMENT PLEASE..!!

    menurut anda sejauh mana pemerintah merespon fenomena climate change??
    🙂

    • 6

      gusti0909 said,

      Waah pertanyaan yang sangat bagus saudara jimmy .
      Dari kemarin2 pertanyaan ini sudah saya tunggu2,
      akhir nya ada juga yang menanyakan masalah ini .
      Saya jadi bersemangat untuk menjawab nya .

      Oke baik lah,
      menurut saya,
      respon pemerintah mengenai fenomena climate change ini “cukup” baik,
      tetapi yang dipermasalahkan adalah pemerintah belum ada bukti nyata dalam mengatasi permasalahan climate change ini .

      Seperti yang telah saya katakan pada tanggapan saya mengenai artikel yang saya kutip,
      saya tidak mau pemerintah hanya sekedar peduli dalam slogan .
      Tunjukan sikap kongkrit yang bisa menjadi teladan dan membangkitkan semangat juang bagi insan lainnya agar terpanggil jiwa dan nuraninya untuk bersama-sama berjuang bahwa musuh bersama kita sekarang adalah perubahan iklim,
      tentunya pelaku industri dan pemerintah yang duduk manis dan mengaminkan produksi dan perdagangan karbon.

      Saya lihat juga semua yang dikatakan pemerintah mengenai climete change hanya berupa wacana saja,
      kita tidak butuh semangat berwacana seperti itu,
      dan jangan pernah menampakan wajah dan kata-kata beretorika pada komunitas apapun apabila belum melakukan sebuah aksi tentang perubahan iklim .

      Salah satu masalah khususnya di Negara kita Indonesia adalah kemiskinan yang nyata .
      Peran pemerintah juga hanya berupa jargon-jargon saja tanpa visi yang jelas seakan-akan hanya seremoni saja,
      kelanjutannya tidak pernah tahu !!!

      So, bagaimana ini ???
      Apa pendapat anda ???🙂

  4. 7

    LETS GO GREEN N GO BLUE BABE!!
    Hhe

    whaaa Climate Change emg lg hangat2ny dbicarain nich serruu!!
    isna mw nanya dunx nin
    apakah anda pernah mendengar mengenai COP 16??…..apakah anda setuju??

    dtunggu y jwabanyy
    mercy;)

    • 8

      gusti0909 said,

      Terima kasih isna buat pertanyaan nya .
      Pertanyaan yang sangat bagus dan itu sekarang sedang hangat-hangatnya dibahas .

      Untuk COP-15 ini saya sih setuju-setuju saja,
      tetapi kalau untuk pendelegasian dari Indonesia untuk kesana,
      saya dengan tegas menolak tindakan tersebut .
      Karena bayangkan saja,
      saat disana para duta bangsa dari indonesia mempunyai dualisme :
      1. dia tdk bisa meyakinkan laut menjadi bahan terdepan pasca MOD .
      2. dia belum bisa meloby negara2 industri untuk siap menjadikan isu tersebut layak dibahas .

      Dan apakah kalian tau hasilnya seperti apa ???
      Yang saya dengar dan saya lihat di berbagai stasiun tv dan saya baca di koran dan media informasi lainnya,
      menurut saya hasil dari COP-15 TIDAK ADA HASIL APA2 .
      Yg ada,
      Anggota Delegasi RI (Delri) yang juga Kepala Sekretariat Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) , Agus Purnomo mengatakan G77 menghentikan perundingan di COP-15 karena adanya tekanan dari kelompok negara maju.
      Menurut salah satu wacana yang saya ambil dari artikel ini http://www.antaranews.com/berita/1260831228/perundingan-cop-15-kopenhagen-dilanjutkan-setelah-sempat-terhenti,
      dikatakan bahwa “Negosiasi sempat berhenti karena negara berkembang yaitu kelompok G77 merasakan tekanan yang cukup kuat dari negara maju untuk menggabungkan perundingan di AWG-LCA dan AWG-KP,” kata Agus Purnomo yang lebih akrab dipanggil Pungki.

      Sangat lah sia-sia kan ???
      Dengan membaca ini,
      bagaimana pendapat anda ???
      Apakah anda setuju ???
      Saya rasa jawaban anda sama seperti saya .
      hihih .
      :p

  5. 9

    ojanmaul said,

    bagus bnget nih tulisannya, tapi gw mau nanya dong…
    pengaruh climate change di laut apa?? terutama laut di Indonesia..
    menurut anda climate change mulai di rasakan sejak tahun berapa???

    terima kasih yah…

    • 10

      gusti0909 said,

      Makasi ojan buat pujiannya .
      Tlsan lw jg bgs .
      ngek .
      :p

      Untuk kpn mulai nya climate change itu dirasakan saya kurang tau pasti kapan itu mulai di rasakan .
      Karena banyak artikel2 yang saya baca,
      jadi berbagai argumen mengenai kapan nya ini sangat lah banyak,
      bahkan yang lebih mencengangkan,
      perubahan iklim itu mulai terjadi smenjak tahun 1750an .
      Berdasarkan wacana yang saya ambil dari http://www.climatemediapartnership.org/reporting/stories/asam-di-gunung-di-laut-juga/,
      disana dikatakan “Since 1750, Industry revolution has rised CO2 levels too high for seas to control. It makes oceans can’t afford to neutralize it any more. To much carbon caused too much acid and hidrogen’s produced from oceans. It make seas’s Ph level rising, and flush corals, shells and planktons. Without them-which a basic on sea food chain- even a whale sized of Titanic won’t survive.”

      Tetapi yang real kebanyakan orang tau,
      climate change benar2 di rasakan sejak thn 1960an .
      Contohnya saja Lembaga Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang menyimpulkan bahwa suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir .
      IPCC menyatakan sebagian besar peningkatan temperatur rata2 global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca.
      Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8 .

      Untuk pengaruh nya sendiri terhadap laut kita,
      mungkin sudah banyak ya artikel mengenai ini,
      yang saya baca dari blog saudari bandari http://bandariariningfitranty.wordpress.com/,
      sedikit yang saya ambil dari artikel tsb adalah :
      “Selama 50 tahun terakhir suhu atmosfer di bumi ini semakin menigkat seiring dengan meningkatnya juga konsentrasi CO2 dan secara langsung keadaan ini menyebabkan naiknya suhu air laut. Dampak perubahan iklim terhadap aspek kelautan sangatlah kompleks, karena hal ini bisa terjadi secara langsung dan tidak langsung, juga dalam jangka waktu yang pendek maupun jangka waktu yang panjang. Kadang-kadang dampaknya tidak terdeteksi pada awal-awal perubahan, dan baru disadari dan diheboh-hebohkan ketika ada pihak-pihak yang merasa dirugikan.”

      Mungkin untuk lebih jelas nya lagi mengenai dampak perubahan iklim terhadap laut, khusus nya laut Indonesia,
      mungkin anda bisa langsung mengunjungi blog saudari bandari ke http://bandariariningfitranty.wordpress.com/ .
      Disana sangat lah jelas dijelaskan mengenai dampak climate change terhadap laut kita .

      Semoga sedikit informasi yang saya berikan dapat bermanfaat buat anda .🙂

  6. 11

    mbahkekok said,

    mmmm…. go green, huh? just like this blog’s theme, GREEN….

    bagus juga postnya….. ngga mw banyak komen, hanya berharap semua yang ditulis di atas bener” bisa dilakuin…..

    tp kira” cara pendekatan ke masyarakatnya yang paling baik kayak apa yaa…???

    • 12

      gusti0909 said,

      Okee mbah kekok .
      Mksh buat comment nya .
      Smga saja pemerintah tdk hanya berkoar2 saja,
      dan apa yang di katakan smga terealisasi segera dan bukan hanya wacana saja .🙂

      Mungkin kalau pendapat saya,
      cara yang baik untuk melakukan pendekatan ke masyarakat mungkin yg sekarang terbayang di pikiran saya adalah dengan cara turun langsung ke masyarakat,
      mungkin sewaktu KKN kita bisa memberikan sosialisasi kepada masyarkat,
      kita perlu memberikan informasi kondisi nyata “climate change” dan dampaknya yang sudah dan akan terjadi terhadap kehidupan sehari2 masyarakat agar masyarakat merasakan bahwa “climate change” adalah masalah besar yang sedang menghadang di depan mata .

      Selain masalah nyata dampak “climate change” pada saat ini,
      perlu pula dibuat prediksi pada tataran lokal dan nasional tentang dampak “climate change” di masa depan terutama apabila tidak melakukan upaya apapun .
      Hal ini terkait dengan perencanaan antisipatif terhadap dampak, penyusunan langkah-langkah adaptasi dan aksi lainnya .
      Melalui pendekatan antisipatif ini lah,
      masyarakat disiapkan untuk mampu beradaptasi terhadap perubahan yang akan terjadi .
      Untuk hal ini diperlukan data dan peta dasar yang akurat untuk membuat prediksi, skenario, antisipasi dan aksi apabila terjadi dampak .

      Semoga anda puas dengan pendapat yang saya berikan .🙂

  7. 13

    nin…bagus,,,bagus,,,blognya…

    mau nanya ya nin…

    kan td kamu mengatakan perlunya teknologi- teknologi untuk mencegah perubahan iklim, mksdnya teknologi apa saja yang dibutuhkan?

    nuhun

    • 14

      gusti0909 said,

      Makasih ayu buat pujiannya .
      Dan makasih juga buat pertanyaannya .
      Aku coba jawab berdasarkan yang aku tau aja ya yuuk .
      heheh .🙂

      Kalau kata aku,
      teknologi yang dimaksud itu mencakup :
      1. penemuan cara yang efektif mengenai pemanfaatan SDA yang ada agar sesuai kaidah lingkungan,
      2. penyesuaian/perubahan/penggantian moda teknologi yang sedang berjalan (yang tidak ramah lingkungan) dengan yang lebih ramah lingkungan .
      3. energi alternatif ramah lingkungan, infra struktur, teknologi adapatif dan antisipatif perubahan lingkungan .

      Teknologi ramah lingkungan harus menjadi persyaratan utama .
      Untuk usaha yang sudah berjalan,
      sedikit demi sedikit diharapkan dapat melakukan perubahan teknologi ke arah yang ramah lingkungan .
      Diperlukan penentuan masa transisi menuju penggunaan teknologi lingkungan yang betul2 bersih .

      Pemerintah juga selalu bilang bahwa “teknologi terbarukan itu mahal perlu investasi besar2an”.
      Menurut saya tidak,
      asal di bangun di masyarakat dan dengan swadaya bisa menghasilkan energinya sendiri .
      Misalnya nelayan dididik agar bisa membuat solar sendiri dengan limbah ikan di lingkungannya .
      Bukan hanya nelayan saja,
      petani juga bisa memanfaatkan jerami sisa panen untuk membuat “bensin” sendiri .
      Para peternak pun bisa membuat bio-gas sendiri .

      Untuk energi kelistrikan sendiri,
      sebenarnya bisa di manfaatkan Micro Hidro sederhana yang murah,
      bahkan kita bisa buat alternator sendiri buat yang daerahnya banyak air .
      Kalau daerah yang banyak angin,
      bisa memanfaatkan teknologi Win Power terutama di pantai2 .

      Menurut saya tidak ada alasan macam2,
      yang penting kemauan pemerintah saja .
      Kalau mikirnya yang megah2,
      yaaa susah deh.

      “Transfer of technology” juga hendaknya didudukkan di dalam kerangka “transfer of knowledge”,
      sehingga teknologi yang digunakan di lapangan dapat terdifusi kepada seluruh masyarakat,
      khususnya lembaga penelitian dan pendidikan tinggi .

      SEMOGA BERMANFAAT YAA AYUUU .🙂

  8. 15

    noaa said,

    Syarat UAS Meteorologi
    1. Deadline pengumpulan adalah tanggal 5 January 2010,
    2. Isi diprint dan dikumpul pada tanggal 7 January 2010, ke bu lintang atau pak Noa,
    3. Pertanyaan (komentar) dan jawaban diprint di lembar terpisah,
    4. Link diprint dalam lembar terpisah,
    1. Pembangunan blog
    a. Pembangunan awal blog 30%
    b. Isi 40%
    2. Link 5%
    a. Komentar 5%
    b. Sustansi 10%
    c. Jawaban pertanyaan 10%

  9. 16

    noaa said,

    saya membaca opini anda terhadap pertanyaan teman anda, saya kira mungkin bakat anda juga ada sebagai pembicara…bagus….

    pertanyaan :
    1. dalam paragrap anda tertulis, Selain masalah nyata dampak “climate change” pada saat ini, perlu pula dibuat prediksi pada tataran lokal dan nasional tentang dampak “climate change” di masa depan terutama apabila tidak melakukan upaya apapun. bagaimana prediksi menurut gambaran anda pada tataran lokal dan nasional?
    2. apakah perlu membuat UU Energi di Indonesia?

    • 17

      gusti0909 said,

      Wah pak maaf baru di bls post nya .
      Saya semalem pas baca pertanyaan dari bapak,
      waahh seperti nya saya harus tidur dulu biar saya mendapatkan ilham konsep kata2 nya mau seperti apa,
      biar kata2 nya maksimal gitu pak,
      *padahal asli nya mah saya ga tau pak mau jawab apa,
      hehehe …

      Mungkin langsung aja ya pak,
      maaf kalau jawaban saya agak kurang,
      mungkin nanti sama bapak bisa ditambahkan .

      Yang pertama pak,
      dampak “climate change” ini belum banyak yang tau,
      bayangkan saja sudah berapa saat ini suhu bumi ???
      Yang seharusnnya 1.5-2.5 derajat celcius sekarang sudah mencapai angka 3 …
      Waduh2 ini mendefinisikan bahwa terlihat ekstrim sekali perubahan cuaca yang ada …

      Yang ke dua,
      kalau saat ini mau peduli kepada bumi apakah dengan menanam tanaman maka akan selesai tugas kita ??
      Negara2 industri AS mereka saat ini terus melakukan kegiatan industri malah makin besar,
      dan apakah mereka mau menanam ???

      Jawabannya tentu lah tidak (buang2 waktu dan lahan saja menurut mereka),
      dan akhirnya dampak untuk hijaukan bumi itu diserahkan pada negara2 berkembang,
      dan salah satunya Indonesia .
      Dan bayangkan Jepang, Perancis sudah siap memberikan dana penanaman itu dan uangnya ternyata bangsa kita pinjam,
      bukan dikasih,
      nanti jadinya akan masuk dalam HUTANG .

      Jelas2 alasan saja terlihat dalam tataran lokal seperti itu akan banyak industri yang tidak ramah lingkungan,
      disini saya bukan menyalahkan siapa2 .
      Contohnya saja jakarta,
      berapa banyak CO yang terbuang menjadi rumah kaca,
      dan industri di cikarang kalau kita kesana akan panas sekali di daerah tersebut,
      Atau kalau ke muara baru..industri membuang limbah saja..mencemari laut, apakah itu ???
      Jelas lingkungan akan terjadi tdk seimbang,
      saat tdk seimbang lingkungan yang terjadi mungkin habislah jakarta dsb..hehehe

      Secara nasional,
      terlihat dari hasil kemarin Kopenhagen kegagalan indonesia memperjuangkan laut disana,
      berbeda saat di manado, dan bali .
      Di Denmark SBY tidak berani menyebutkan laut,
      dan saat ini malah media masa banyak mengatakan keberhasilan dsb …

      Untuk pertanyaan bapak yang kedua,
      UU enegi jelas sepertinya bisa dimungkinkan karena industri harus diamankan .
      Jangan semaunya saja melakukan kegiatan tanpa ada dasar hukumnya,
      dan kalau sudah ada UU harus berani menegakan dan berani melakukannya…

      Contohnya seperti ini :
      Menteri DKP RI pernah mengatakan bahwa kita harus beralih kepada laut dari pada darat,
      kemudian kita pun harus dapat membangunkan RAKSASA yang sedang tidur ini,
      nah terlihat sekali bagus kalau mau beralih dari darat ke laut,
      tapi saat ini laut kita sedang sakit akibat banyak sekali kegiatan yang merusak laut,
      apakah mau analoginya tempat itu rusak apakah indah kalau di lakukan kegiatan pariwisatan dsb???
      Jelas tdk !!!
      Makanya saat ini biarkan saja laut,
      agar ikan2 kita makin banyak,
      karang kita bagus dan semuany kembali .
      Cukup saja 5 tahun ini lautnya di istirahatkan saja agar dia bisa kembali pulih .

      Mungkin segitu aja pak yang bisa saya jawab,
      kalau ada yang kurang,
      yaa mungkin saya sangat berterima kasih sama bapak kalau bapak mau menambahkan .
      Nuhun pak .🙂

      • 18

        noaa said,

        1. prediksi tataran lokal berarti ada sebuah model yang menerangkan tentang perubahan iklim itu sendiri. saat ini kebanyakan model berdasarkan data global saja, sedangkan untuk lokal (berbagai karakteristik kepulauan) mempunyai perbedaan kondisi geografis. begitu bukan….jadi perlu sekali.

        2. UU Energi di Indonesia sangat kompleks, mengingat banyaknya variabel yang berpengaruh terhadap kepentingan itu sendiri. jadi saya kira kesempatan itu, masih dalam perdebatan panjang. tetapi itu perlu…

        menurut anda gimana? kapan kira2 kita bisa?

      • 19

        gusti0909 said,

        Menurut saya pak,
        UU Energi di Indonesia harus mengakomodasi “KEMANDIRIAN ENERGI” .
        Perlindungan Energi dari MONOPOLI sebagian orang saja .
        Yang paling utama adalah Energi yang NASIONALIS dan sesuai dengan UUD’45 .
        Sekarang apakah sudah sesuai dengan Konstitusi kita ?
        Bumi dan kekayaan alam dikuasai negara dan di pergunakan sebesar2nya untuk KEMAKMURAN RAKYAT .
        Sekarang yang makmur adalah orang Asing dan orang yang berkerjasama dengan ASING,
        bukan rakyat !!!

        Sekian pak .
        hehehe…

  10. 20

    accentarigan said,

    Bagus sich artikelnya…
    saya mau tanya berhubungan dengan artikel ini; “Sejauh ini ada gak sich antisipsi pemerintah dalam hal menanggapi Climate Change di Indonesia tentang mencegah perubahan iklim yang terus menerus meningkat… Tp di sisi lain pemerintah justru malah besar-besaran meningkatkan produksi yang malah penyumbang terbesar dari masalh perubahan iklim tersebut… Misalnya import barang yang berhubungan dengan mobil dan motor

    • 21

      gusti0909 said,

      Makasih accen buat pujiannya .
      Tampilan bagus ga penting yang penting isi nya,
      ya syukurlah kalau anda mengatakan isi artikel saya bagus,
      semoga dengan artikel saya ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi yang membaca .🙂

      Pertanyaan yang sering orang2 tanyakan kepada saya,
      seperti nya semua orang menanyakan BAGAIMANA DENGAN PEMERINTAH ??? APAKAH SUDAH ADA TINDAKAN NYATA YANG TELAH MEREKA LAKUKAN ???
      Inti nya seperti itu,
      balik2 lagi ke pemerintah .
      Yaa untuk kesekian kalinya saya harus menjawab pertanyaan ini .
      hihih .
      :p

      Seperti yang pernah saya katakan kepada saudara jimmy,
      menurut saya,
      Kalau untuk respon,
      pemerintah respon nya “cukup” baik mengenai perubahan iklim,
      tetapi sampai sekarang pemerintah belum ada bukti nyata dalam mengatasi permasalahan climate change ini .
      Semua yang dikatakan pemerintah mengenai climete change hanya berupa wacana saja,
      Peran pemerintah hanya berupa jargon-jargon saja tanpa visi yang jelas seakan-akan hanya seremoni saja,
      kelanjutannya tidak pernah tahu !!!

      Pemerintah hanya sekedar peduli dalam slogan .
      Belum ada sikap kongkrit yang bisa menjadi teladan dan membangkitkan semangat juang bagi insan lainnya agar terpanggil jiwa dan nuraninya untuk bersama-sama berjuang bahwa musuh bersama kita sekarang adalah perubahan iklim,
      tentunya pelaku industri dan pemerintah yang duduk manis dan mengaminkan produksi dan perdagangan karbon .

      Pengurangan emisi 26% ?
      Mungkinkah itu dilakukan ?
      Tidak lah mungkin saudara !
      Jelas sekali 26% mana mungkin,
      kalau pun bisa,
      apa langkahnya???
      Pemerintah akan terus melakukan penjualan karbon seperti bursa efek .
      Terbukti saat di Kopenhagen, Denmark desember kemarin,
      negara kita GAGAL melobi negara lain untuk menurunkan emisi karbonnya .

      Intinya RI TIDAK MEMPERJUANGKAN NASIBNYA !!!

      Mulai lah pada diri kita sendiri,
      dari sekian banayak orang di bumi ini masa’ tidak ada yang peduli dengan CLIMATE CHANGE ???
      GO GREEN KAWAANN !!!
      SAVE OUR EARTH !!!🙂

  11. 22

    muhammad faisal said,

    nina bagaimana menurut kamu..
    apakah penanggulangan yg di lakukan oleh pemerintah sudah baik atau masih ada yg kurang?
    maksih..

    • 23

      gusti0909 said,

      Waahh icaank .
      Icank penanya yang kelima yang menanyakan masalah ini .
      Seperti nya icank tinggal baca aja komentar2 nina sebelum nya .
      Disitu ada kok .
      Kalau masih kurang paham,
      sok ntar tanya lagi .
      hhe .🙂

  12. 24

    sandrakania said,

    edaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnn paraaaaaaaaaaaaahhh .
    ninnn mauuu nanyyyaaaaaa dooonkkkk .

    niiinnn carbon sale . hhooo
    menuruut nina gmn tuuuu ? hhee

    • 25

      gusti0909 said,

      Waahh saann .
      Paraahh kunaon ???
      Oh kmu ga jd nanya kbr cuuamyy akuu ???
      Sugan teh jadii mau nanya .
      ahhahaha .😀

      Langsung aj ya san,
      da aku mah bener2 sudah kehabisan kata2,
      teuing rek ngmg kumaha deui,
      hihih .

      Ginii loh san,
      sesui dengan artikel yang aku baca di harian Kompas Tanggal 2 Juli 2009,
      disana dikatakan,
      menjelang pertemuan World Ocean Conference di Manado, 11-15 Mei 2009,
      mencuat usulan perdagangan karbon bersumber dari lautan .
      Menteri Kelautan dan Perikanan mengklaim bahwa laut dan pantai Indonesia mampu menyerap karbon 66,9 juta ton per tahun dan karbon dioksida (CO) 245,6 juta ton per tahun (Kompas, 11/4).

      Pemerintah meyakini,
      dengan mengusung gagasan ini di WOC akan mendapatkan keuntungan dari negara-negara penghasil emisi atas jasa serapan lautnya terhadap karbon.
      Jika demikian,
      negara-negara industri maju tetap leluasa melepaskan emisi karbon.
      Pertanyaannya, apakah laut sebagai penyerap karbon atau pelepas karbon?

      Terkait pertanyaan tersebut,
      Menurut saya global warming tidak ada dampak positifnya termasuk carbon sale .
      Istilah ‘carbon sale’ atau jasa penyerap/pengemisi karbon yg bukanlah dampak positif ,
      Melainkan suatu timbal balik atas apa yg telah terjadi/ditimbulkan .

      Seperti opini yang diberikan oleh saudara irman terhadap pertanyaan yang saya tanyakan mengenai carbon sale,
      negara-negara maju seperti Amerika , Cina , dan negara-negara eropa adalah penghasil karbon terbesar di bumi ini , industri-industri di negara mereka lah yg menghasilkan polutan berupa CO2 yg menjadi penyebab global warming .
      Dalam hal ini Indonesia yg memiliki hutan tropis dan wilayah laut yg luas memiliki gagasan ‘carbon sale’ untuk setiap polutan yg mereka hasilkan .

      Seperti kita ketahui pada protokol Kyoto , KTT Perubahan Iklim di bali , dan baru-baru ini pada KTT Copenhagen dijelaskan bahwa negara-negara maju memiliki tanggung jawab historis dalam antisipasi pencegahan perubahan iklim dan mitigasi pada negara-negara berkembang seperti indonesia .
      Pada KTT tersebut dijelaskan bahwa negara-negara maju harus membayar sebesar 10 Miliar US$ pada negara-negara berkembang .
      Secara tidak langsung hal ini akan mendorong meningkatnya perekonomian indonesia ,walaupun menurut saya harga itu tidak sebanding dengan kerusakan yg ada akibat pemanasan global ini .
      Ironis memang , KTT perubahan iklim memang selalu tidak menghasilkan jalan keluar yg memuaskan .
      Tp bukan tidak mungkin dengan gagasan ‘carbon sale’ ini perekonomian indonesia akan sedikit terdongkrak naik .

      Mungkin hanya itu saja saudara sandra .
      Mungkin kalau anda ingin memberikan opini menurut anda sendiri,
      mungkin akan lebih baik .🙂

  13. 26

    ade numpang nanya ,,,
    heu

    Mana yang lebih dulu terjadi perubahan iklim atau pembentukan pegunungan, bagaimana siklus / proses sebab-akibatnya?
    yang kedua,,
    apakah ada hubungan nya antara gerhana matahari dengan perubahan iklim global ???

    makasih de,,

  14. 27

    sefray said,

    wow ,,

    what a nice blogg!!!

    saya ada ssedikit pertanyyaan nich!!

    climate change erat kaitanya dengan emisi gas karbon yang terakumulasi di atmosfer.
    menurut anda apakah gas CO2 saja yang menyebabkan climate change atau ada substansi lain yang menyebabkan climate change ??

    terima kasih ,,,,

  15. 28

    blueseafer said,

    menarik dan sangat menambah wawasan saya,,saya bngung mo bertanya pa karena sudah banyak pertanyaan yang di lontarkan sebelumnya.
    menurut anda apakah kita bisa mengembalikan bumi kita ini menjadi bumi yang sejuk dan nyamaan seperti dahulu,,dan berapa lama kira2 waktu yang diperlukan untuknya???
    melihat dari tahun ke tahun pembabatan hutan semakin marak terjadi dan efek rumah kaca yang semakin liar.terimakasih.


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: