Paralytic Shellfish Poisoning (PSP)

TUGAS MIKROBIOLOGI : Paralytic Shellfish Poisoning (PSP)

Disusun Oleh : GUSTI SEPTIANDINA

NPM : 230210080002

ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

2008-2009

Paralytic Shellfish Poisoning (PSP)

Latar Belakang

TOKSIN adalah suatu substansi yang mempunyai gugus fungsional spesifik, letaknya di dalam molekul dan menunjukkan aktivitas fisiologis kuat. Toksin atau racun biasanya terdapat dalam tubuh hewan, tumbuhan bakteri dan makhluk hidup lainnya, merupakan zat asing bagi korbannya atau bersifat anti-gen dan bersifat merugikan bagi kesehatan korbannya.

Adanya toksin pada kekerangan dan manusia yang mengkonsumsi makanan tercemar toksin berakibat menjadi sakit merupakan aspek kesehatan masyarakat veteriner (kesmavet). Pencemaran laut seperti blooming alga sebagai akibat secara langsung atau tidak langsung oleh pembuangan bahan atau limbah ke dalam laut yang berasal dari kegiatan manusia dapat menghasilkan racun atau toksin yang dimangsa oleh kekerangan dan terakumulasi dalam konsentrasi yang dapat membahayakan manusia yang mengkonsumsinya. Toksin dari alga beracun tersebut salah satunya disebut dengan Paralytic Shellfish Poisoning (PSP).

Akhir-akhir ini ledakan pertumbuhan alga (ganggang) beracun sering terjadi di berbagai belahan dunia. Alga adalah organisme eukariotik bersel tunggal dan mikroskopik yang sebagian hidup di laut. Hampir sebagian besar spesies alga atau fitoplankton tidak berbahaya dan berfungsi sebagai penghasil energi pada rantai makanan di laut.

Alga tersebut terdistribusi secara global, tetapi kejadiannya sering secara mendadak dan sulit diramalkan, sehingga kasus kematian biota laut secara besar-besaran pun terjadi akibat racun dari alga tersebut.

Pada waktu tertentu, alga tumbuh sangat cepat atau bloom dan berakumulasi dengan densitas sangat padat sehingga menimbulkan penampakan berupa perubahan warna pada permukaan air laut yang sangat jelas.

Red tide adalah nama umum untuk menggambarkan fenomena tersebut di mana spesies fitoplankton tertentu yang terdiri atas pigmen kemerah-merahan atau reddish pigments dan bloom tersebut mengakibatkan perairan menjadi berwarna merah. Karena itu, istilah red tide kurang tepat karena mereka tidak berasosiasi dengan pasang surut (tides) dan biasanya tidak harmful. Adapun spesies yang harmful biasanya tidak pernah mencapai kepadatan sel (bloom) yang diperlukan untuk mengubah warna air laut. . Ada beberapa jenis alga dari keluarga Red Tide yang kabarnya memiliki racun yang cukup kuat.

Sejumlah kecil spesies alga menghasilkan toksin yang dapat ditransferkan melalui jaringan makanan di mana mereka dapat mempengaruhi dan bahkan membunuh organisme yang lebih tinggi tingkatannya, seperti zooplankton, kerang-kerangan, ikan, burung, mamalia laut, dan bahkan manusia yang mengonsumsinya baik secara langsung maupun tidak langsung. Sekarang para peneliti lebih memakai istilah harmful algae blooms (HABs) untuk menggambarkan fenomena yang berkaitan dengan toksin maupun dampak negatif dari alga.

Paralytic Shellfish Poisoning (PSP).

Senyawa toksik utama dari ”paralytic shellfish poison” adalah ”saxitoxin” yang bersifat ”neurotoxin”. Keracunan toksin ini dikenal dengan istilah ”Paralytic shellfish poisoning” (PSP). Keracunan ini disebabkan karena mengkonsumsi kerang-kerangan yang memakan dinoflagelata beracun. Dinoflagelata adalah agen saxitoxin dimana zat terkonsentrasi di dalamnya. Kerang-kerangan menjadi beracun di saat dinoflategelata sedang melimpah karena laut sedang pasang merah atau ‘red tide’.

Di Jepang bagian selatan ditemukan spesies kepiting (Zosimus aeneus), hewan ini mengakumulasi dalam jumlah besar saxitoxin. Dan dilaporkan menyebabkan kematian pada manusia yang mengkonsumsinya. Jenis plankton yang memproduksi saxitoxin adalah Alexandrium catenella dan A. tamarensis, Pyrodinium bahamense.

Paralytic shellfish poisoning (PSP) pada umumnya disebabkan oleh kontaminasi toksin saxitoxin yang dihasilkan oleh alga berbahaya jenis Alexandrium spp., Gymnodinium catenatum, dan Pyrodinium bahamense. Untuk mendeteksi PSP digunakan metode direct competitive ELISA (Usleber et al.,1991).

Keracunan Saxitoxin menimbulkan gejala seperti rasa terbakar pada lidah, bibir dan mulut yang selanjutnya merambat ke leher, lengan dan kaki. Kemudian berlanjut menjadi mati rasa sehingga gerakan menjadi sulit. Dalam kasus yang hebat diikuti oleh perasaan melayang-layang, mengeluarkan air liur, pusing dan muntah. Toksin memblokir susunan saraf pusat, menurunkan fungsi pusat pengatur pernapasan dan cardiovasculer di otak, dan kematian biasanya disebabkan karena kerusakan pada sistem pernapasan.

Pada kasus yang berat dapat mengakibatkan gangguan pernapasan dalam waktu 24 jam setelah konsumsi kerang-kerangan yang beracun. Jika pasien tidak bisa bernapas atau detak tidak terdeteksi, pernapasan buatan dan CPR diperlukan sebagai pertolongan pertama. Tidak ada penawarnya dan terapi merupakan cara terbaik untuk penyembuhan pasien.

Pertolongan hanya dapat dilakukan dengan cara menguras isi perut dan memberikan pernafasan buatan. Pada suatu penelitian sampel klinis dari terjangkitnya PSP di Alaska tahun 1994, pembuangan saxitoxin dari darah manu-sia berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam, juga pada pasien yang mengalami kelumpuhan pernafasan dan dibantu dengan bantuan pernafasan. Pembuangan ini sebagian besar melalui urin. Saat ini masih belum tersedia penangkal untuk PSP Antibodi monoklonal anti saxitoxin yang diuji secara in vitro dan in vivo menunjukkan perlindungan terhadap terikat-nya saxitoxin dan pengurangan gerakan di sekeliling saraf aki-bat saxitoxin pada saraf mencit, diduga antibodi mungkin ber-potensi menyediakan reagen yang berguna untuk perlindungan terhadap toksisitas secara in vivo. Sebagai tambahan, peng-halang saluran K, 4-aminoantipirin, baru-baru ini menunjukkan pembalikan efek secara signifikan pada serangan saxitoxin dalarn mencit, mungkin hal ini berguna sebagai penangkal bagi PSP. Pada penderita PSP akan muncul gejala yang dimulai dengan kekebalan pada wajah, bibir dan jari-jari tangan, gatal-gatal, kejang mulut, pening, paralisis, serangan jantung hingga kegagalan sistem pernafasan dalam waktu 3 sampai 12 jam.

PSP dapat dihindari dengan program monitoring proaktif dalam skala besar, yaitu dengan mengukur tingkat toksin pada kerang-kerangan dan penutupan segera pada area yang terkontaminasi racun ini.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=52494

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0402/04/ilpeng/836031.htm

http://www.pelita.or.id/cetakartikel.php?id=25623

http://www.conectique.com/get_updated/article.php?article_id=610

Wiadnyana, N,N., 1996, Mikroalga berbahaya di Indonesia. Oseanology dan Limnology di

Indonesia, 29, 15 – 28.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: