RESUME EKOLOGI LAUT TROPIS

Ekologi Laut Tropis

Ekologi laut merupakan ilmu yang mempelajari tentang Ekosistem air laut. Ekosistem air laut dibedakan atas lautan, pantai, estuari, dan terumbu karang, dan padang lamun. Lingkungan laut dapat digambarkan atau ditandai pada sejumlah skala yang berbeda. Yang terpenting di ekologi laut tropis ini adalah pemandangan laut, habitat dan spesies, antar-hubungan mereka dapat dinyatakan sebagai berikut:

  • Spesies memberikan keanekaragaman hayati, dengan aturan mapan baik taksonomi untuk membedakan antara jenis yang berbeda. Klasifikasi mereka diatur dalam sebuah ordo, family, kelas dan filum.
  • Suite terdiri habitat spesies (komunitas atau kumpulan) yang terjadi bersamaan, tetapi yang berasal dari bagian taksonomi (misalnya kelps, moluska dan ikan di habitat hutan kelp). Klasifikasi mereka juga dapat terstruktur dalam biotop, biotop kompleks, habitat yang luas yg mencerminkan kesamaan derajat.
  • Kelautan terdiri dari habitat yang secara konsisten terjadi bersamaan, tetapi yang sering berasal dari berbagai bagian klasifikasi habitat (misalnya saltmarsh, mudflats intertidal, pantai berbatu dan kerang tempat tinggal di sebuah muara subtidal).

Toleransi terhadap kondisi lingkungan yang bervariasi antara spesies dapat lebih luas untuk beberapa spesies yang sangat umum tetapi jauh lebih ketat ditetapkan untuk orang lain. Adapun karakteristik laut terbagi menjadi 3, yaitu :

  • Laut Tropis : predator tertinggi (tuna, lansetfish, setuhuk, hiu sedang dan hiu besar), predator lainnya : cumi-cumi, lumba-lumba
  • Laut Subtropis : predator tertinggi (lumba-lumba, anjing laut dan singa laut, paus, burung-burung laut), predator lainnya : salem, cumi-cumi
  • Laut Kutub : predator tertinggi (paus), predator lainnya : anjing laut, singa laut.

Diantara ketiga karakteristik laut diatas, dapat diketahui bahwa laut tropis memiliki keanekaragaman laut yang sangat kaya dibandingkan laut subtropics dan laut kutub, hal ini disebabkan karena pada laut tropis sinar matahari sepanjang tahun secara terus menerus menyinari daerah ini sehingga membuat kondisi yang optimal bagi produktifitas spesies di dalamnya yang konstan sepanjang tahun.

EKOSISTEM

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.

Seluruh ekosistem di dunia disebut biosfer. Dalam biosfer, setiap makhluk hidup menempati lingkungan yang cocok untuk hidupnya. Lingkungan atau tempat yang cocok untuk kehidupannya disebut habitat. Dalam biologi kita sering membedakan istilah habitat untuk makhluk hidup mikro, seperti jamur dan bakteri, yaitu disebut substrat

Ekosisitem sendiri terdiri dari 2 komponen yaitu :
1.Komponen Biotik terdiri dari:

  • Produsen adalah organisme yang dapat menghasilkan makanan dan penyedia makanan untuk makhluk hidup yang lain.
  • Konsumen adalah organisme yang tidak dapat membuat makanannya sendiri dan bergantung pada organisme lain dalam hal makanan.
  • Pengurai adalah organisme yang menguraikan organisme mati. Contoh pengurai adalah jamur dan bakteri.

2.Komponen Abiotik terdiri dari:

  • Cahaya matahari
  • Tanah
  • Air
  • Gas
  • Suhu
  • Kelembaban

Kebergantungan pada ekosistem dapat terjadi antar komponen biotik atau antara komponen biotik dan abiotik.

  1. Kebergantungan antar komponen biotik dapat terjadi melalui:
  • jaring- jaring makanan
  • rantai makanan
  • siklus karbon
  • siklus air
  • siklus nitrogen
  • siklus sulfur
  1. Kebergantungan antara komponen biotik dan abiotik dapat terjadi melalui siklus materi, seperti:

Saling kebergantungan tidak hanya terjadi antar komponen biotik. Saling kebergantungan juga terjadi antara komponen biotik dan abiotiknya.

  • Saling Kebergantungan Antarkomponen Biotik
  1. Rantai makanan
    Perpindahan materi dan energi melalui proses makan dan dimakan dengan urutan tertentu disebut rantai makanan

(Sumber : http://www.kathy-lilia.blogspot.com/2007_06_01_archive.jpg)

Tiap tingkat dari rantai makanan disebut tingkat trofi atau taraf trofi. Karena organisme pertama yang mampu menghasilkan zat makanan adalah tumbuhan maka tingkat trofi pertama selalu diduduki tumbuhan hijau atau produsen. Tingkat selanjutnya adalah tingkat trofi kedua, terdiri atas hewan pemakan tumbuhan yang biasa disebut konsumen primer. Hewan pemakan konsumen primer merupakan tingkat trofi ketiga, terdiri atas hewan-hewan karnivora.

  1. Jaring-jaring makanan

Pada hakikatnya, setiap makhluk hidup di dalam suatu ekosistem merupakan sumber materi dan energi bagi makhluk hidup lainnya. Suatu kenyataannya bahwa setiap jenis makhluk hidup tidak hanya memakan satu jenis makhluk hidup lainnya.

Akibat dari semua itu maka di dalam suatu ekosistem, rantai-rantai makanan itu akan saling berhubungan satu sama lain sedemikian rupa sehingga membentuk seperi jaring-jaring. Itulah sebabnya disebut jaring-jaring makanan.

(Sumber : http://andalasdejava.files.wordpress.com/2007/08/rantaian makanan.gif)

  • Saling Kebergantungan Antara Komponen Biotik dan Abiotik

Saling kebergantungan di antara komponen yang ada dalam ekosistem, baik antara komponen biotik dan abiotik contohnya dapat dilihat pada siklus karbon. Siklus karbon tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak ada tumbuhan, hewan, pengurai, air dan tanah.

Secara umum ada tiga macam tipe ekosistem yaitu :

Ekosistem Air (akuatik)

Ekosistem Darat (terrestrial)

Ekosistem buatan

Keanekaragaman makhluk hidup perlu dijaga supaya ekosistem menjadi stabil. Semakin beranekaragam makhluk hidup dalam suatu ekosistem, semakin stabil ekosistem tersebut. Flora dan fauna alami yang terdapat di hutan perlu dilestarikan karena merupakan sumber plasma nutfah (plasma benih). Sumber plasma nutfah dapat dimanfaatkan untuk mencari bibit unggul bagi kepentingan kesejahteraan manusia. Upaya perlindungan keanekaragaman hayati dapat dilakukan dengan mendirikan cagar alam, taman nasional, hutan wisata, taman laut, hutan lindug dan kebun raya. Untuk mencegah kepunahan makhluk hidup, kadang diperlukan pemeliharaan untuk mengembangbiakannya, yang disebut dengan penangkaran. Pemeliharaan dapat dilakukan secara in situ dan ex situ. Pemeliharaan in situ adalah pemeliharaan yang dilakukan di habitat aslinya. Pemeliharaan ex situ adalah pemeliharaan yang dilakukan di luar habitat aslinya, misalnya di kebun binatang.

NICHE

Setiap spesies cenderung untuk hidup dalam lingkungan tertentu, yaitu memiliki preferensi untuk kombinasi faktor lingkungan (niche), seperti substrat, suhu, salinitas dan kondisi hidrodinamika yang mampu hidup di dalamnya. Dua spesies makhluk hidup dapat menempati habitat yang sama, tetapi tetap memiliki relung (nisia) berbeda. Nisia adalah status fungsional suatu organisme dalam ekosistem. Dalam nisianya, organisme tersebut dapat berperan aktif, sedangkan organisme lain yang sama habitatnya tidak dapat berperan aktif. Sebagai contoh marilah kita lihat pembagian nisia di hutan hujan tropis.

Niche yang ditempati oleh suatu spesies dapat bervariasi baik temporal dan spasial dan bukan hanya dipengaruhi oleh persyaratan fisiologis dan toleransi untuk mengubah, tetapi juga oleh interaksi antara spesies, yaitu persaingan dan hubungan mangsa-pemangsa.

Di tempat tertentu di pantai atau dasar laut, spesies masing-masing disesuaikan dengan kondisi lingkungan tertentu, seperti kondisi dari intertidal. Dimana seperti spesies terjadi di lokasi lain dalam kondisi lingkungan yang sama, dapat didefinisikan sebagai komunitas (atau asosiasi atau perkumpulan) spesies yang terjadi dalam jenis habitat tertentu. Biotop istilah kolektif sekarang dalam penggunaan umum untuk mencakup kedua unsur biotik dan abiotik.

Dalam lingkungan laut, ada hubungan yang kuat antara sifat abiotik habitat dan komposisi biologis masyarakat mendukung. Salah satu faktor yang paling penting yang mempengaruhi komposisi jenis adalah jenis yang hadir substratum, luas yang dapat dibagi menjadi batu dan sedimen (yang terakhir ini berhubungan erat dengan rezim hidrodinamika) sedangkan pada muara salinitas merupakan faktor penting. Struktur komunitas adalah tambahan diubah oleh faktor biologis seperti rekrutmen, predasi, penggembalaan dan kompetisi antar spesies. Habitat atribut paling penting yang muncul untuk mempengaruhi komposisi komunitas. Selain faktor habitat, dan biologis mempengaruhi pengaruh antropogenik komposisi komunitas. Beberapa aspek pengaruh antropogenik.

MANGROVE

Mangrove berasal dari kata mangue/mangal (Portugish) dan grove (English). Secara umum hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe ekosistem hutan yang tumbuh di suatu daerah pasang surut (pantai, laguna, muara sungai) yang tergenang pasang dan bebas pada saat air laut surut dan komunitas tumbuhannya mempunyai toleransi terhadap garam (salinity) air laut.

Tumbuhan yang hidup di ekosistem mangrove adalah tumbuhan yang bersifat halophyte, atau mempunyai toleransi yang tinggi terhadap tingkat keasinan (salinity) air laut dan pada umumnya bersifat alkalin.

Hutan mangrove di Indonesia sering juga disebut hutan bakau. Tetapi istilah ini sebenarnya kurang tepat karena bakau (rhizophora) adalah salah satu family tumbuhan yang sering ditemukan dalam ekosistem hutan mangrove.

Flora ekosistem hutan mangrove sangat bervariasi, tetapi pada umumnya adalah flora yang bersifat halofit. Jenis-jenis tumbuhan yang hidup di hutan mangrove antara lain adalah :

  • Avicenniaceae (api-api, black mangrove, dll)
  • Combretaceae (teruntum, white mangrove, zaragoza mangrove, dll)
  • Arecaceae (nypa, palem rawa, dll)
  • Rhizophoraceae (bakau, red mangrove, dll)
  • Lythraceae (sonneratia, dll)

Sementara fauna ekosistem hutan mangrove juga sangat beragam, mulai dari hewan-hewan vertebrata seperti berbagai jenis ikan, burung, dan hewan amphibia, dan ular sampai berbagai jenis hewan invertebrata seperti insects, crustacea (udang-udangan), moluska (siput, keong, dll), dan hewan invertebrata lainnya seperti cacing, anemon dan koral.

Ekosistem hutan mangrove adalah salah satu ekosistem hutan yang sangat kaya akan flora dan faunanya.

Kegunaan hutan mangrove sangat banyak. Beberapa diantaranya dapat disebutkan dibawah ini :

  • Sebagai peredam gelombang dan angin, pelindung dari abrasi dan pengikisan pantai oleh air laut, penahan intrusi air laut ke darat, penahan lumpur dan perangkap sedimen.
  • Sebagai penghasil sejumlah besar detritus bagi plankton yang merupakan sumber makanan utama biota laut.
  • Sebagai daerah asuhan (nursery grounds), tempat mencari makan (feeding grounds), dan daerah pemijahan (spawning grounds) berbagai jenis ikan, udang dan biota laut lainnya.
  • Sebagai habitat bagi beberapa satwa liar, seperti burung, reptilia (biawak, ular), dan mamalia (monyet).
  • Sebagai penghasil kayu konstruksi, kayu bakar, bahan baku arang, dan bahan baku kertas.
  • Sebagai tempat ekowisata.

SIKLUS BIOGEKIMIA

Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi. Materi yang berupa unsur-unsur terdapat dalam senyawa kimia yang merupakan Materi dasar makhluk hidup dan tak hidup.

Siklus biogeokimia atau siklus organikanorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi jugs melibatkan reaksireaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga disebut siklus biogeokimia.

Siklus-siklus tersebut antara lain: siklus air, siklus oksigen, siklus karbon, siklus nitrogen, dan siklus sulfur. Di sini hanya akan dibahas 3 macam siklus, yaitu siklus nitrogen, siklus fosfor, dan siklus karbon.

1. Siklus Nitrogen (N2)

Gas nitrogen banyak terdapat di atmosfer, yaitu 80% dari udara. Nitrogen bebas dapat ditambat/difiksasi terutama oleh tumbuhan yang berbintil akar (misalnya jenis polongan) dan beberapa jenis ganggang. Nitrogen bebas juga dapat bereaksi dengan hidrogen atau oksigen dengan bantuan kilat/ petir. Tumbuhan memperoleh nitrogen dari dalam tanah berupa amonia (NH3), ion nitrit (N02- ), dan ion nitrat (N03- ).

Beberapa bakteri yang dapat menambat nitrogen terdapat pada akar Legum dan akar tumbuhan lain, misalnya Marsiella crenata. Selain itu, terdapat bakteri dalam tanah yang dapat mengikat nitrogen secara langsung, yakni Azotobacter sp. yang bersifat aerob dan Clostridium sp. yang bersifat anaerob. Nostoc sp. dan Anabaena sp. (ganggang biru) juga mampu menambat nitrogen.

Nitrogen yang diikat dalam bentuk ammonia diperoleh dari hasil penguraian jaringan oleh bakteri, kemudian dinitrifikasi oleh bakteri nitrit yaitu nitrosomonas dan nitrosococus sehingga menghasilkan nitrat yang akan diserap olrh akar tumbuhan. Selanjutnya oleh bakteri denitrifikan, nitrat diubah menjadi amonia kembali, dan amonia diubah menjadi nitrogen yang dilepaskan ke udara. Dengan cara ini siklus nitrogen akan berulang dalam ekosistem.

Gambar siklus nitrogen

2. Siklus Fosfor

Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah).

Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Oleh karena itu, fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Siklus ini berulang terus menerus.

Gbr. Siklus Fosfor di Alam

3.Siklus Karbon dan Oksigen

Di atmosfer terdapat kandungan COZ sebanyak 0.03%. Sumber-sumber COZ di udara berasal dari respirasi manusia dan hewan, erupsi vulkanik, pembakaran batubara, dan asap pabrik.

Karbon dioksida di udara dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk berfotosintesis dan menghasilkan oksigen yang nantinya akan digunakan oleh manusia dan hewan untuk berespirasi.

Hewan dan tumbuhan yang mati, dalam waktu yang lama akan membentuk batubara di dalam tanah. Batubara akan dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar yang juga menambah kadar C02 di udara.

Di ekosistem air, pertukaran C02 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung. Karbon dioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, COz yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah C02 di air. Lihat Gambar

Gbr. Siklus Karbon dan Oksigen di Alam

DAFTAR PUSTAKA

http://www.kathy-lilia.blogspot.com/2007_06_01_archive.jpg

http://andalasdejava.files.wordpress.com/2007/08/rantaian makanan.gif

http://hend-learning.blogspot.com/2009/05/ekosistem.html

http://bos.fkip.uns.ac.id/

Disusun Oleh

Gusti Septiandina 230210080002

Nais Annisa 230210080026

Marine Ecology

Ilmu Kelautan UNPAD 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: